Tiga Kali Tiga Meter

[Blue Ransel]
Di Balik Layar #6
oleh Gol A Gong

Di redaksi majalah HAI, saya bertemu dengan Hilman, Boim, dan Gusur. Juga dengan Adra P. Daniel. Cerita bersambung mereka dimuat di majalah HAI lebih dulu daripada saya. Mereka anak-anak muda, yang tidak berbeda dengan saya, ingin menjadikan menulis sebagai profesi. Mbak Sri, sekretaris redaksi memperkenalkan kami.

“Oh, ini Gol A Gong,” kata Hilman, tersenyum. Kami berjabatan tangan. Boim juga. Hilman memuji “Balada Si Roy”, yang baru muncul empat episode sudah menggebrak. “Sangat laki,” tambh Hilman. Saat itu Hilman yang tidak banyak bicara, masih kuliah di Uiversitas Pancasila, Boim yang hobi ngocol dan itemnya minta ampun, di STP (sekarang IISIP Lenteng Agung), Adra yang kemayu di IKIP Rawamangun. Gusur yang kalau bicara seperti pejabat kelurahan, tidak kuliah, sama seperti saya. Pertemuan yang menyenangkan dengan mereka. Saya merasakan, bahwa kami mempunya mimpi besar sama. Saat itu mereka sedang pada puncak keemasan. Hilman, Boim, Gusur adalah ikon majalah HAI. Mereka road show ke hampir seluruh provinsi di Indonesia, mengusung “pers abu-abu” dari sang big boss, Arswendo Atmowiloto.

Dari Boim-lah saya memperoleh informasi tentang kos-kosan. Bahkan dia mengantar saya mencari kosan. Di Palmerah II, dekat SMA Santa Ursula dan SMA 16. Rumah Gusur juga di sekitar itu. Di dalam gang kecil. Ukuran kamarnya 3 kali 3 meter, seharaga Rp.75.000,-. Boim juga kos di sana. Pemiliknya Betawi asli; mempunya 10 kamar. Untung masih ada yang kosong. Saya kebagian kamar paling ujung.

Hanya kamar kosong. Belum ada apa-apa. Seharian itu saya membereskan “istana” saya. Dinding batako sebelah selatan saya tempeli “wallpaper” dari koran-koran ibu kota. Lantai saya pel. Malamnya, saya kelelahan dengan sehelai tikar pinjaman dari pemilik kos. Belasan surat dari pembaca “Balada Si Roy” saya baca. Menyenangkan sekali membaca surat-surat mereka; dari Jakarta, Solo, Yogya, bahkan ada yang dari Meda, dan Makasar. Rata-rata mereka menyukai tokoh “Roy”, yang sangat berbeda dengan “Lupus”. Bagi mereka, “Roy” seolah representasi dari kegelisahan jiwa muda mereka. Rata-rata dari mereka memyukai petualangan dan suka naik gunung. Surat-surat saya dekap dan saya biarkan menemani malam saya, yang sangat sensasional dan emosional.

Kedua mata saya menatap dinding kamar sebelah selatan. Di sana terpampang “wallpaper” dari koran-koran. Berita-berita headlinenya menyerbu mata batin saya. Saya paling menyukai menatap huruf-huruf headline di surat kabar. Dari sana otak kiri dan otak kanan saya bekerja dengan cepat, bertindihan ingin berebut tempat. Malam itu saya punya banyak rencana. Tapi, mesin tik masih di tempat Herdi. Jika kalian pembaca balada Si Roy, di sana akan ditemukan tokoh “Edi”. Idenya, memang dari personifikasi Herdi. Dalam keseharian, Herdi sering sekali “menasehati” saya, agar jangan terlalu sering meninggalkan Emak. Herdi sering tidur di rumah saya saat SMA dan dia anak asuh Emak.

Saya hanya merasa “shock” saja, karena mulai malam ini, di tahun 1988, saya menempati sebuah kamar, yang saya bayar dari keringat sendiri. Tidak lagi dari orang tua. Umur saya 25 tahun. Sudah cukup tua untuk di sebut mandiri. Tapi, semuanya sesuai dengan rencana besar saya. Harus pelan-pelan dan tidak terburu-buru.

Bagi saya yang tinggal di kampung, strategi dengan mengukur kemampuan diri, sangatlah penting. Saya datang ke Jakarta tidak ingin bernasib seperti kaum urban lainnya, yang jadi penonton di pinggir jalan. Saya ingin semuanya dengan perhitungan matang. Kalau ibarat pesilat, cukup sudah berguru di padepokan. Sekaranglah saatnya turun gunung untuk mengadu ilmu dengan pendekar dari perguruan lain. Analogi ini saya kenakan pada dunia kepenulisan. Saat itu saya merasa batin saya sudah cukup untuk menceburkan diri pada dunia kepenulisan.

Seperti yang dikatakan Ismail Marahimin dalam buku “Menulis Secara Populer” (Pustaka Jaya, 1994:17), bahwa untuk dapat ‘menulis’ kita harus banyak ‘membaca’. Membaca adalah sarana utama menuju ke keterampilan menulis. Membaca memberikan berbagai-bagai ‘tenaga dalam’, yang sangat dibutuhkan oleh penulis. Nah, saya pada saat itu, merasa memiliki ‘tenaga dalam’ yang sangat tinggi! Saya dalam keadaan siap tempur, berkompetisi dengan penulis-penulis lain.

Tekad itu saya ikrarkan di kamar tiga kali tiga meter. Sangat beralasan, karena di majalah HAI; setiap terbit selalu muncul dua serial secara “head to head”. Saat pemunculan “Balada Si Roy” langsung berhadapan dengan “Lupus” yang ditulis Hilman. Serial “Lupus” ditempatkan di halaman awal, sedangkan “Balada Si Roy” di halaman belakang; serial nomor dua.

 * * *

One comment

  1. DOAku untukmu mas gong!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: