Saya Jadi Pengarang

[Blue Ransel]
Di Balik Layar #5
oleh Gol A Gong

Akhirnya setiap hari Selasa, serial “Balada Si Roy” karya saya, selalu muncul di majalah HAI. Di ujung malam saya bersujud di sajadah, mengucap syukur pada Allah. “Telah Engkau tunjukan jalan-Mu, ya Rabbi…, jalan dimana kelak saya akan beribadah… Terima kasih, ya Rabbi…!” tak henti-hentinya saya mengucap syukur.

Saat itu saya semakin mantap, bahwa “menulis” adalah pilihan hidup saya. Saya sekarang jadi pengarang. Insya Allah, tidak akan ada lagi yang menghalangi langkah saya. Tidak juga peraturan pemerintah yang banyak membatasi gerak orang cacat.

Saya jadi pengarang! Betapa indah kalimat itu. Saya membayangkan diri saya jadi seorang Ernest Hemingway yang selalu berpergian mencari ide-ide baru untuk cerita-ceritanya. Atau saya juga membayangkan jadi Karl May. Menggelegak hampir tak terbendung, keinginan saya yang terpendam: Mengelilingi dunia! Seperti tokoh Fogg di novel “Mengelilingi Dunia dalam 80 hari” karya Jules Verne! Saya merasa yakin, bahwa setelah mengelilingi Indonesia, mimpi itu akan tercapai. Ya, profesi menulis akan mewujudkan mimpi saya: mengelilingi dunia!

Tentu keinginan saya jadi pengarang tidak keinginan tadi malam, lalu terbukti keesokan harinya. Mengutip Kahlil Gibran, langkah saya yang bermil-mil jauhnya itu, sudah saya awali sejak saya kecil. Ya, sejak saya kecil, saya sudah suka membaca. Novel pujangga baru dan Balai Pustaka jadi santapan saya. Bahkan, saat saya di SD (1976), saya sudah membaca “Petualangan Tom Sawyer” (Mark Twain) dan membuat sandiwara radio. Ceritanya tentang “ratapan anak tiri”. Saat di SMP (1979) saya sudah membuat komik. Gambar dan ceritanya saya yang membuat. Saat itu saya sedang gemar menonton film Kung Fu yang diperankan oleh (almarhum) Fu Shen dan Chen Kuan Tai. Dan di SMA (1981), puisi saya sudah dimuat di majalah HAI. Juga saya membuat majalah kumpulan cerpen, yang cerita dan ilustrasinya saya yang membuat. Jejak-jejak yang bisa saya selamatkan hanya majalah kumpulan cerpen itu. Kondisinya sekarang sudah rapuh. Jadi, orang-orang yang dulu pernah satu sekolah dengan saya, jika berpapasan di suatu tempat, pasti menyalami saya dan mengatakan, “Jadi pengarang juga kamu!” Mereka pasti tidak merasa heran.

Emak, Bapak, serta saudara-saudara juga begitu. Mereka tidak merasa aneh jika saya jadi pengarang. Hanya saja, sesekali, jika sedang berkumpul di meja makan, mereka selalu mengingatkan, “Yakin menulis akan jadi pilihanmu?” Saya menjawab: Iya!

Emak paling-paling selalu berpesan, agar saya menuliskan hal-hal yang baik. Tapi Bapak terus saja “menteror” mental saya, agar menyelesaikan kuliah dan mencari pekerjaan tetap. Saya sudah mengundurkan diri dari Universitas Padjadjaran, Bandung, Fakultas Sastra Indonesia.

“Di Serang saja. Ada swasta ‘kan,” usul Bapak. Saat itu (1988), di Serang ada 2 perguruan tinggi swasta; Universitas Tirtayasa (sekarang sudah negeri) dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi, Serang.

Saya tetap menolak. Setelah episode ke-4 “Balada Si Roy” dimuat, saya memutuskan akan ke Jakarta. “Saya mau kos di Jakarta. Saya tidak akan berkembang di Serang. Dan saya akan mencari pekerjaan tetap,” kata saya.

Bapak tidak melarang saya, ketika saya memutuskan kos di Jakarta. Bapak malah sangat mendukung. Tapi Emak tampak ragu melepas saya. “Biarkan saja. Lelaki harus pergi dari rumah,” Bapak malah merasa yakin. “Dengan begitu, dia akan kuat menjalani hidup!”

Kadang saya tidak pernah bisa memahami jalan pikiran Emak dan Bapak saat itu. Pada Emak, saya merasa selalu didukung tapi juga selalu merasa dicemaskan. Pada Bapak, saya menemukan kekurangsetujuan bapak terhadap pilihah hidup saya sebagai penulis, tapi juga dukungan jika saya hendak melangkah ke urusan yang lain.

Saya sudah mantap kos di Jakarta. Saya berhitung-hitung, biaya kamar pada 1988 Rp.75.000. Tiga kali makan (ngirit dengan tahu dan tempe) bisalah Rp.5000,- total pengeluaran dengan perkiraan hemat sekitar Rp. 250.000,- Saat itu saya sudah mengira-ngira, dalam sebulan ada 4 episode Balada Si Roy dimuat di HAI dengan honor Rp. 37.500,- sebulan saya mendapat pemasukan dari HAI sebesar Rp. 150.000,- Tinggal mencari tambahan Rp.100.000,-lagi. Saya tetap optimis. Saya membayangkan dalam satu bulan harus membuat cerpen-cerpen yang lain untuk dikirim ke majalah Anita Cemerlang (almarhum), Kawanku, Gadis, dan Mode.

Saya pergi ke Jakarta dengan membawa mesin tik Brother dan ransel berisi beberapa potong pakaian dan tentu buku-buku. Tangan palsu saya gantungkan saja di dinding kamar. Tidak akan ada gunanya tangan palsu saya bawa ke Jakarta.

Saat itu saya ibarat kaum urban yang hendak menaklukkan hegemoni Jakarta. Di sepanjang jalan Serang – Jakarta, saya melamun kemana-mana. Saya tahu, betapa hidup akan keras di Jakarta. Betapa saya akan banyak mengalami jatuh, bangun, jatuh lagi, bangun lagi…. Saya sudah siap.

Tempat yang saya tuju adalah kosan Herdi. Saya menginap satu malam di sana. Saya jelaskan pada dia, bahwa saya akan mencari kosan di Jakarta. Herdi mendukung. Keesokannya, saya ke HAI. Mengambil honor. Apa yang terjadi, ternyata honor saya mulai episode kelima naik sebesar Rp.75.000,- berarti dalam sebulan saya akan mendapatkan uang sebesar Rp. 300.000,- Masya Allah! Ini luar biasa!

Menurut Mbak Retno (Redpel HAI waktu itu), banyak surat pembaca yang masuk ke redaksi. Mereka sangat menyukai Balada Si Roy dan menanyakan siapa “Gol A Gong”. Aha!

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: