Honor Pertama Balada Si Roy

[Blue Ransel]
Di Balik Layar #4
oleh Gol A Gong

Menunggu dari bulan Desember 1987 ke Maret 1988 sangatlah lama. Hari-hari saya habiskan dengan terus membaca, melakukan travelling kecil-kecilan di Banten; ke Banten Lama (10 Km utara Serang), ke Baduy atau ke pantai Anyer. Otak kanan saya setiap hari harus terus mengembara. Fantasi saya harus terus terjaga.

Setiap malam saya membaca “buku harian” atau sketsa-sktesa pendek yang saya tulis di dalam perjalanan. Seru! Saat saya menyusuri Bali (1986), Nusa Tenggara (1986), Timor Timur (1987), atau Sulawesi (1987). Juga yang paling seru; menyusuri pulau Seram (1986) selama 1 bulan. Dari ujung baratnya; Amahai ke ujung timur; pulau Geser! Naik perahu kayu ke Fak Fak, dan berkenalan dengan orang-orang dari suku Dani di pegunungan Jayawijaya. Alangkah indahnya! Banyak, banyak peristiwa yang bisa saya tuangkan ke dalam fiksi (baca “Tips: Dari Peristiwa ke Fiksi”).

Kepala saya penuh. Otak saya luber. Ibarat sebuah gelas, airnya tumpah kemana-mana. Seperti mau meledak. Mesin tik, ya mesin tiklah pelarian saya. Kamar saya di paviliun atas, Komplek P dan K , Penancangan, Blok A/Palem 47, Serang, Banten, tak pernah sepi dari tak, tik, tuk…. bunyi tust mesin ketik Brother. Kadang saya tertidur sambil memeluk mesin tik berselimutkan buku-buku untuk referensi “Balada Si Roy”. Lagu-lagu dari Peter Gabriel “Genesis”, Jim Morrison “The Doors”, John Anderson “Yes”, atau Rogers Water “Pink Floyd” menemani kata setiap kata yang meluncur dari hati saya, mengalir dan menetes di ujung kelima jari saya.

Bagi saya waktu itu adalah saat “mabuk” menuliskan “Balada Si Roy”. Episode demi episode terus mengalir. Saya seolah sedang menyetubuhi “Roy”. Jika setiap episode sudah selesai saya buat, Emak, adik dan kakak adalah editor pertama. Merekalah yang “berkuasa” atas segala karya saya saat itu. Semua kritik dan masukan dari mereka saya terima dengan hati senang. Kadangkala kalimat-kalimat dari Emak saya kutip langsung jadi dialog tokoh “Mama Roy”. Saya ingin semua karakter dalam “Balada Si Roy” kuat dan hidup serta dekat di hati para pembaca kelak. Untuk tokoh “Roy” saja, saya banyak melakukan observasi dan wawancara tidak langsung dengan semua “anak jalanan”. Bahkan saya pernah merasakan sebagai “anak jalanan” saat di SMA, sehingga idiom-idiomnya saya rasakan betul.

Sewaktu SMA saya punya geng bernama “Yess”, karena kesukaan kami pada kelompok musik art rock “Yes” asal Inggris. Saya betul-betul terobsesi agar semua remaja di Indonesia merasa dirinya adalah “Roy”. Dan itu terbukti setelah dibukukan, beberapa pelajar SMA atau mahasiswa mengungkapkan perasaanya pada saya, “Roy itu gue banget!”

Setelah “lolos” dari tangan mereka, itu belum saya anggap selesai. Sebuah karya akan sangat memuaskan jika lahir dari beberapa kali revisi. Selalu saya baca lagi. Jika ada dialog yang kurang kuat, saya olah lagi. Sajak-sajak pembukanya atau kalimat-kalimat filosofinya saya teliti lagi, cocok atau tidak. Kadangkala sebuah episode “Balada Si Roy” terinspirasi dari sebuah sajak, atau kebalikannya.

Beberapa sinopsis sudah selesai saya buat. Itu adalah hari-hari sangat melelahkan dan penuh perjuangan. Jika kurang sreg dengan sebuah paragraf atau dialog, saya mesti mengetik lagi dari awal. Saya tahu kehebatan benda komputer saat itu (1988). Saya pernah kursus word star 4 pada 1984 di Lembaga Pendidikan Indonesia Amerika, Bandung. Saya pernah merasakan betapa enaknya “copy” dan “paste” untuk memindah-mindahkan sebuah paragraf. Atau “insert” sebuah kalimat di tengah kalimat yang sudah jadi. Komputer bisa melakukan itu semua. Tapi, saat itu membeli komputer yang harganya jutaan rupiah adalah mimpi di siang bolong. Bapak dan Emak hanyalah pegawai negeri dengan gaji ratusan ribu rupiah.

Ah, betapa lama Maret 1988 itu! Bapak sesekali suka mengusik saya, “Daripada tidak ada kerjaan, mendingan diisi kursus.” Saya meyakinkan Bapak, bahwa selama ini saya tidak menganggur. Kalau saya bepergian ke suatu tempat, itu adalah observasi atau riset. Kalau saya sedang mengetik di kamar, itu berarti saya sedang menuangkan gagasan-gagasan. Tunggulah bulan Maret 1988, Pak!

Saya lupa persisnya! Tapi, hari itu pun tiba, awal Maret 1988 Saya bediri di loper koran, perempatan Pocis, Pasar Lama, Serang. Hari Selasa, dimana majalah HAI selalu terbit. Saya buka halaman demi halamannya. Ketika saya melihat di halaman “serial’ tertulis dengan huruf besar “Balada Si Roy” karya Gol A Gong, saya mengalami sensasi yang luar biasa. Kepala saya membesar. Kedua pipi saya panas, dada saya menggelembung! Tangan saya gemetar. Saat itu, serial “Lupus” juga ada di halaman lain.

“Terima kasih, Allah! Impianku sebagai pengarang terwujud sudah!” Saat itu saya merasa terlahir kembali!”

Saya pulang ke rumah! Saya perlihatkan majalah HAI pada Bapak, Emak, serta saudara. Mereka semua antusias! Mereka senang. Tapi selalu saja Bapak, yang membuat saya duduk tak nyaman, “Berapa sih honornya? Apa kamu yakin itu cukup untuk nafkah hidupmu?”

Saya memberi jaminan pada Bapak, bahwa menulis adalah profesi yang akan saya jadikan sandaran hidup; menafkahi anak-istri kelak serta untuk mewujudkan segala mimpi-mimpi saya: mengubah stigma Banten yang kental dengan black magic dan jawaranya!

Pada hari Kamisnya saya ke Jakarta. Saya bertemu dengan Mas Wendho dan Mbak Retno. Saya menyetorkan lagi 7 episode yang sudah saya revisi. Tanpa diduga Mbak Sri, bendahara, menawari saya, “Honornya mau diambil, nggak?” Tentu saja saya mau. Betapa membuncahnya dada saya ini ketika saya lihat angkanya; Rp.37.500! Ini adalah peristiwa emosional yang tidak mungkin saya lupakan.

Uang itu, setibanya di rumah, saya berikan pada Emak. “Ini, Mak! Honor pertama saya sebagai pengarang! Silakan, mau Emak pakai untuk beli apa saja, silakan!” Emak menerimanya dan mengucap puji syukur. Lalu uang itu diberikannya lagi pada saya. “Kamu lebih memerlukan uang ini daripada Emak. Pakailah untuk modal kamu di Jakarta!”.

* * *

One comment

  1. Mantap! That was a great struggle, Roy!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: