Roy, Kutukan, dan Novel

[Blue Ransel]
oleh Ali Gong Shadlle

Seperti tulisan saya sebelumnya, saya masih tertarik dengan permasalahan “kutukan” yang “mengabuti” cerita Balada Si Roy.

Tulisan sebelumnya, saya banyak menulis tentang kutukan di sekitar film atau usaha-usaha untuk memfilmkan BSR. Sekali lagi seperti yang sudah kita ketahui bersama dari cerita mahaguru avonturir kita. Berapa kali BSR mau difilmkan tapi gagal. Berpuluh tahun juga kita menunggu, para penggemar setia BSR haarap-harap cemas tentang ini.

“Kutukan Roy, bukan hanya pada saat kisah ini mau dialih mediakan menjadi film. Jauh sebelum itu, ketika ia masih menjadi cerbung di majalah remaja HAI. Menurut cerita yang sudah pasti kita ketahui juga dari mahaguru avonturir kita Kang Gol A Gong bahwa kenapa BSR hanya 10 seri saja. Pada saat itu, mungkin bahasa keren anak sekarang Akang kita yang satu ini sedang galau ketika banyak menerima surat protes dari ibu-ibu se-Indonesia, bahwa anaknya jadi nakal gara-gara kisah BSR. Dengan berbagai pertimbangan maka diputuskanlah utk menghentikannya di seri kesepuluh. Buat saya pribadi, ini adalah “kutukan” pertama bagi Balada Si Roy.

Persoalan mengambil hal positif dari Roy itu memang menjadi sebuah kutukan sampai kapan pun. Tidak semua pembaca BSR paham semangat yang dibawa Roy. Semangat lelaki seutuhnya. Meminjam bahasa seorang penyair yang juga penggemar BSR, yaitu Hasan Aspahani, “Balada Si Roy itu spirit satu lawan satu. Roy itu melelakikan lelaki Indonesia”, maknai dengan baik! Bagi saya Roy itu adalah bibit yang masih belum dipilah. Agar menjadi unggul, kita sebagai pembaca harus pandai memilahnya. Agar jangan sampai bibit yang hampa ikut tertanam dan menjadi sia-sia.

Jangan diperpanjang daftar “kutukan” yang memendungi BSR, Kawan. Penggemar BSR sejati itu berjiwa ksatria. Ia tahu mana hak dan kewajiban. Penggemar BSR itu bersahabat, bertualang, dan berkarya. Bukan sekadar bersahabat, ia membangun persahabatan antar suku bangsa, antar agama, tak ada pembatasnya.

Bertualang bukan hanya di gunung dan hutan, Kawan. Bertualanglah ke tempat yang belum kamu kenal. Desa-desa, kampung-kampung yang mungkin tak tercatat di peta negara, agar kamu tahu menjadi minoritas, agar kamu tahu bagaimana menjadi tamu di sebuah suku yang hanya kamu dengar ceritanya, yang miris-miris saja. Berkarya bukan hanya sekadar berkarya, sekadar menulis perjalanan jadi sebuah cerita, cerpen atau akan jadi novel dan difilmkan. Berkaryalah untuk tempat-tempat yang kamu datanngi.

Roy itu adalah semangat berbagi! Berbagi ilmu lewat buku!

Dan ingat kawan, jangan sampai Balada Si Roy menjadi kutukan bagi dirimu sendiri.

Buat Sahabat Balada Si Roy!
Spesial Zhibril Aba Bil, baca juga “Roy, Kutukan dan Film”.

Handil, Samarinda 23 november

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: