Si Roy dan Petualanganku

[Gonjlengan 11]
Jack Alawi, 24, Serang

Sebelum aku bergabung di Rumah Dunia dan belum membaca Balada si Roy, aku belum pernah pergi keluar jauh selain ke Jakarta dan sekitar Banten. Padahal jiwa petualangan saya sudah ada sejak kecil. Namun aku belum cukup berani melangkahkan kaki seperti si Roy yang sejak SMA sudah bepergian jauh.

Bensin Ketemu Api
Nah, setelah aku gabung di Rumah Dunia dan membaca Balada si Roy, jiwa petualanganku terbakar olehnya. Tak beda dengan apa yang dikatakan Yudi Kudaliar Febrian ketika acara temu Sahabat Balada si Roy di Festival Taman Bacaan Masyarakat di Senayan. Dia mengatakan bahwa membaca Balada si Roy baginya adalah seperti bensin ketemu api. Ya, itu pun yang aku rasakan dalam diriku.

Gunung Lawu
Aku mengawali petualangan dengan naik Gunung Lawu, Karanganyar- Jawa Tengah. Kebetulan pada saat idul fitri tahun 2011 waktu yang tepat karena libur panjang di tempat kerjaku. Pas setelah salat dohor, aku dan keenam temanku berangkat menyandang ransel.

Pada saat itulah aku baru merasakan perjalanan panjang di kereta selama 12 jam. Di perjalanan pertama itu aku merasakan menjadi petualang. Menikmati panorama di Gunung Lawu. Mengenal banyak orang baru plus karakternya Perjalanan awal yang mempertemukanku dengan banyak ciptaan Tuhan dan juga karya makhluknya.

Setelah ngecamp di puncak selama semalam, aku dan teman-teman turun dan pulangnya jalan-jalan ke Solo selama dua hari. Aku pun tidur di teras Stasiun Solo Jebres karena ingin merasakan seperti si Roy tidur ditemani nyamuk stasiun.

Gunung Salak
Selang beberapa bulan, aku naik Gunung Salak, Bogor. Ada kejadian di Gunung Salak yang bagiku sungguh begitu memilukan, mungkin kawan-kawan pembaca juga. Berselang seminggu dari pendakianku di Gunung Salak itu, terjadilah kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menabrak tebing gunung. Salah satu dari korban adalah wanita yang bernam Ismi, reporter trans tv, asal kotaku (Serang)

Peristiwa ini aku jadikan satu cerpen yang berjudul “Kembang Puspa untuk Isma”. Sengaja aku memilih kembang puspa, karena di Gunung Salak banyak kembang itu dan aku mengganti nama Ismi jadi Isma. Cerpen ini akan dibukukan oleh penerbit Gong Publishing bersama 26 cerpen lainnya karya peserta kelas menulis Rumah Dunia. Judul buku ini “Blue Ransel”, nama ini diambil dari salah satu judul Novel Balada si Roy. Karena Blue Ransel ini rencananya akan terbit berserie. Untuk serie pertama ini temanya sekitar mistik, misteri atau Horor. Dan diberi judul “Blue Ransel; My Horror Trip”.

Baduy
Perjalanan selanjutnya ke Perkampungan Baduy, Banten Selatan. Kendaraan yang membawaku ke baduy adalah mobil trek, seperti si Roy yang juga suka naik trek. Di Perkampungan Baduy ini aku mempelajari kehidupan suku asli Banten yang masih bertahan pada keyakinan nenek-moyangnya. Perkampungan yang damai, hutan yang rimbun beserta isinya dan sungai yang mengalir jernih menjadi sumber kehidupan mereka.

Gunung Karang, Gunung Pulosari dan Gunung Aseupan
Perjalananku lanjut ke Gunung Karang dan Gunung Pulosari yang berada di Selatan Provinsi Banten, tepatnya kabupaten Pandeglang. Selama dua hari dua gunung. Sampai-sampai setelah pulang dari situ badanku ngedrop dan jatuh sakit selama seminggu.

Namun itu tak mematahkan jiwa petualanganku, dan selanjutnya naik Gunung Aseupan masih di Kabupaten Pandeglang. Gunung yang jarang di daki ini memiliki kisah mistik yang membuat para pendaki jarang mendaki gunung ini. Namun, aku dan teman-temanku yang sekarang membuat satu organisasi pecinta alam yang kami namakan Arcapala (Arah Cakrawala Pecinta Alam) tidak terbebani dengan mistis itu. Untuk melihat ciptaan Tuhan, kadang-kadang harus bisa mengalahkan rasa takut.

Trek menuju puncak gunung ini memang jarang dilalui orang, tidak heran bila banyak bermacam-macam pohan yang menghalangi jalan.

Gunung Anak Krakatau dan Travel Writer
Akhir bulan ini aku akan berekspedisi bersama komunitas Backpacker Koprol ke Gunung Krakatau. Merasakan terapung di lautan seperti Roy menyusuri laut Pulau Seram dan Laut-laut lainnya.

Beberapa bulan lalu Kang Daniel Mahendra menerbitkan buku catatan perjalannya yang berjudul “Perjalanan ke Atap Dunia”, di buku ini Kang Daniel menceritakan perjalanannya di Tibet. Royalti dari buku ini disumbangkan untuk kegiatan Rumah Dunia.

Dari situlah aku ingin menuliskan dan membukukan sendiri tulisan catatan perjalananku, walaupun masih untuk koleksi pribadi dan sebagai latihan menuju langkah selanjutnya. Ya, aku ingin menjadi Travel Writer seperti halnya Gol A Gong, Kang Daniel dan para Travel Writer lainnya.

* * *

Roy, aku belum menemukanmu di kaki gunung Banten Selatan. Suatu saat aku akan menjumpaimu bertelanjang dada, sedang membajak sawah dengan kerbau, dan tentu rambutmu yang gondrong tergerai tertiup angin. Dan di pematang sawah itu seorang gadis setia menemanimu.(*)

Jack Alawi, Sahabat Balada si Roy Banten.

One comment

  1. Yo ayoo!!! setelah krakatau, kabari ya kalau ada rencana berpetualang lagi.. siapa tau kita bisa gabung😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: