Balada Si Roy: dari Novel ke Film

[Blue Ransel]
oleh Gol A Gong

Novel saya yang berjudul “Balada Si Roy” dengan setting Serang-Banten, awalnya dimuat bersambung, berupa cerpen-cerpen, yang saling mengait sepanjang 1988-1994. Dengan tagline “Cinta terlarang si petualang, tak lekang dimakan zaman”, serial di Majalah HAI ini dibukukan jadi 10 jilid oleh Gramedia. Setelah 20-an tahun di hati pembaca, kini diangkat ke layar lebar oleh PT. Blue Star Marine. Rencana tayang di bioskop 21 pada Februari 2012.

Persoalan muncul ketika menentukan siapa aktor yang pas memerankan Roy. Nah, setelah sebulan mencari aktor yang cocok untuk pemeran Roy, alhamdulillah, akhirnya pemeran Roy terpilih juga. Setelah berdebat panjang tentang tokoh “Roy” dengan 4 kandidat; Fatir Muchtar, Ferdi Nuril, Adipati Dolken, dan Ramon Y Tungka, maka terpilih 2 orang. Yakni Fatir dan Ramon. Lalu saya, Bob Seven (talent scout) dan Imam Ghozali (Produser dari Blue star Marine) memilah-milah phisik Fatir dan Ramon. Fatir tidak gondrong, Ramon gondrong dan lebih khas brandalan dan jalanan.

Maka, pemeran Roy jatuh ke Ramon Y Tungka. Selamat kepada Ramon. Filmnya – insya Allah – beredar di bioskop 21 pada Februari 2013. Pada 17 November 2012 di Indonesia Book Fair, panggung utama, Ramon dan pemeran lainnya diperkenalkan kepada publik. Mohon dukungan para Sahabat Balada Si Roy, agar dimudahkan filmnya. Bukunya diterbitkan lagi oleh Gramedia jadi 5 buku dari 10 (dengan boxset) dan bonus skenario filmnya. Harga Rp.200.000,-

Hal lain dari keistimewaan film Balada Si Roy ini, tradisi jawara dan mulu dan khas Banten mendominasi. Semoga saja ini bisa dijadikan tontonan wajib warga Banten. Instilah “jawara sholat” dan “jawara tidak sholat” atau “jawara putih” atau “jawara hitam” muncul dan menjadi daya tarik. Para tokoh utama dengan gelar “Tubagus” dan “Ratu” juga muncul.

Juga tokoh “Roy” mencintai sastra. Bahan ada beberapa scene, di mana adegannya tokoh Roy sedang mengetik cerpen dan menulis puisi. Ini adalah film tentang petualangan, cinta, kuliner, dan sastra. Gerakan literasi juga dimunculkan lewat keberadaan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Kita semua sebagai penggiat literasi di komunitas menulis – dengan happy dan terus-menerus menggelindingkan keberadaan TBM. Bahkan di film Balada Si Roy, saya memasukkan setting lokasi di sebuah TBM. Roy – tokoh di film – terjerat cinta lokasi dengan pengelola TBM di Dieng. Ada 3 scene di mana Roy mendongeng di TBM Pelangi.

Untuk update filmnya, silahkan bergabung di grup facebook Sahabat Balada Si Roy, kawan! Doakan lancar dan dimudahkan.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: