Ini Sebuah Balada: Si Roy, Mas Gong, Penggemar dan BSM

[Blue Ransel]
oleh Didiek Ganezh

Memilih pemeran utama untuk sebuah film yang tokoh utamanya lebih duluan terkenal seperti Balada si Roy (BSR) itu memang bukan hal yang gampang, calon pemain itu  harus memiliki karakter yang sesuai dengan tokoh cerita dalam novel itu, lebih ribet lagi jika tokoh itu sudah sangat mengakar di hati penggemarnya. Pasti akan menimbulkan polemik antara penulis, penggemar dan tim film maker. Memilih tokoh utama dan memperhatikan keinginan penggemar merupakan dua hal yang sangat penting dan saling berkaitan. Harus pas, atau minimal mendekati kata cocok antara penulis (Mas Gong), Blue Star Marine (BSM) dan penggemar.

Penggemar memang berhak untuk mengkritisi bahkan menolak seorang kandidat yang diajukan oleh pihak penulis dan film maker, tapi sepertinya itu hanya ungkapan subyektivitas yang paling dominan. Gambaran ketidakrelaan dan kekhawatiran kalau tokoh idola di film dibuat secara asal dan jelek, yang nantinya merusak rasa pengidolaannya terhadap tokoh tersebut. Ambil contoh film Avatar Ang yang melenceng dari film versi kartunnya, wajah Asia si Ang diubah jadi bule. Atau Triple-X dari Vien Dissel diganti ama yang negro, atau film Eragon yang dibesut dari novel Christopher Paolini dan masih banyak contoh lain tentang film-film yang dianggap gagal karena perubahan yang dipaksakan itu cukup membikin sakit hati para penggemarnya.

Bahkan saya pun akhir berpendapat: Kalo ada film berdasarkan novel, “Usahakan tontonlah filmnya terlebih dahulu baru membaca novelnya!”. Kenapa? Kalo kita nonton filmnya dulu, kita bisa mendapat cerita & visual yang utuh, karena awalnya kita memang tidak mengetahui gambaran apa-apa kecuali hanya potongan-potongan pendek dari iklan misalnya.  Dan ketika kemudian kita membaca novelnya kita akan disuguhi gambaran yang lebih lengkap lewat bacaan serta imajinasi kita sendiri. Jadi kita lebih “bisa memaklumi” kekurangan di filmnya akan ditutupi novelnya. Tapi kalo kita membaca novelnya terlebih dulu baru nonton filmnya, tak jarang kita akan menemui kejanggalan-kejanggalannya. Koq bisa begitu? Koq janggal beda? Pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul dari mulut para penggemar. Ini terjadi karena penyajian novel itu memang lebih kaya (imajinatif) ketimbang sajian visual (film). Dari novel kita bermain dengan imajinasi kita yang nyaris tak terbatas, sementara visual film itu terbatas dengan bayak hal, di antaranya mungkin: biaya, lokasi, wardrobe, make up artis dan lain-lainnya. Untuk meminimalis kekurangan ini memang menjadi tugas yang berat bagi tim film maker.

Jika ada pertanyaan, tapi koq film si Fulan yang berdasarkan novel juga gak seribet ini? Jawabannya simpel, karena penggemar novel itu hanya sekedar suka dan senang. Bukan pada taraf mengidolakan apalagi menganggap tokoh dalam novel itu sebagai tokoh inspiratif. Jadinya ya, lempeng aja. Wong pembacanya cuma sekedar suka dan senang sama ceritanya. Jadi mereka lebih gampang memilih pemain atau sound tracknya.

Nah, rumitnya adalah ketika sebuah film didasari novel yang lebih dahulu terkenal. Sangat mengakar di hati para pembaca dan penggemarnya, bahkan menganggap tokoh novel itu sebagai tokoh inspiratif, kemudian dengan rentang waktu yang panjang akhirnya akan dilayarlebarkan juga. Otomatis kemunculan tokoh idola ini akan mendapat respon yang menurut saya cukup memusingkan si penulis dan tim film makernya. Respon yang menjadi pobhia kalo nanti tokoh idolanya muncul ke film itu menjelma jadi tokoh yang tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan, meski sebenarnya sang pengaranglah yang paling tahu gimana karakter yang telah diciptakannya itu. Namun itulah kekuatan/ kekayaan sastra yang imajinatif, para pembaca/ penggemarnya juga memiliki “bentuk tersendiri” tentang si idola. Mereka memiliki “gambaran sempurna tersendiri” tentang karakter idola mereka, bahkan penggemar satu dengan penggemar lainnya juga sangat mungkin memiliki gambaran sosok yang berbeda meski tokoh yang diidolakan adalah sama. Saya mencoba untuk membikin catatan untuk penggemar, penulis dan film makernya. Siapa tahu bisa nambah-nambah inspirasi untuk sama-sama mewujudkan niat baik melayarlebarkan Balada si Roy…

Catatan buat para penggemar:

  1. Beri kesempatan kepada penulis dan BSM untuk memberikan karya terbaiknya. jika hasilnya filmnya nanti memang jelek, bukankah film ini sekuel, jadi mungkin selanjutnya akan dibuat lebih baik.
  2. Pendapat subyektif yang berlebihan hanya akan mengganggu proses dalam mewujudkan film ini.
  3. Sebagai penggemar kita ini penting, berhak mengkritisi & berkomentar, tapi tetap saja pemegang palu eksekusi berada di tangan penulis dan BSM.
  4. Jika dirasa sangat mengecewakan nggak usah berkoar-koar, cukup nggak usah tonton filmnya, dan puaslah hanya dengan mengkoleksi bukunya saja.
  5. Pahami juga kalo memilih lagu OST dan pemain film itu sangat bergantung dengan kesepakatan komersil antara pemilik royalti, honor pemain & bajet yang disediakan oleh tim film maker (PH), jika tidak sepakat, harap maklum lagu atau bintang film yang (ngotot) kita usulkan itu nggak akan dipakai. Jadi usulan tetang “lagu ndeso” atau nge-rock, bintang tua/muda, berbau bule atau lokal itu tetep tergantung sama “kesepakatan komersil” itu juga.
  6. Ketahuilah film berdasar novel pasti ada perbedaan, karena visual film itu tak sekaya novel yang dipenuhi dengan reka imajinasi sang penulis, tidak dibatasi ribetnya pengadaan biaya, alat, waktu, fisik bintang film, wardrobe, interior, setting lokasi/ tempat dll. Yang paling bisa kita “tuntut” hanyalah agar ceritanya jangan terlalu jauh melenceng dari novelnya.
  7. Kita yang mengaku dekat dengan si Roy sudah pasti tahu “kenal watak” dia. Rada berandal juga minusnya si Roy, itulah yang membikin tokoh Roy berbeda dengan tokoh idola lainnya. Di novel, sisi gelap Roy jelas diangkat–ngegelek, ngobat, bolos, gak naik kelas–meski itu logis sebagai gambaran bahwa tak ada manusia yang sempurna, dan itulah yg membikin tokoh Roy “sempurna sebagai manusia” ketika ia berhasil bangkit dari kegelapan itu. Namun sepertinya memang tak semua pembaca/ pemirsa yang bisa menyikapi itu sebagai hal positif, melainkan sebagai “sosialisasi kebobrokan”, contohnya Mas Gong pernah diprotes kaum ibu-ibu perihal BSR! Protes itulah yang akhirnya menutupi sisi baiknya si Roy, baktinya terhadap Ibu, kemandiriannya, kepedulian terhadap sesama, sikap patriotisnya dia. Nah, jika dalam bentuk tulis aja diprotes, apa lagi dalam bentuk visual? Mungkin hal ini yang akan jadi pertimbangan kenapa nanti film Roy akan “mengalami perubahan” ketimbang novelnya. Mungkin ini yang membuat kita lebih toleran menerima perubahan, meski harapan kita tetap Roy adalah Roy, entah di novel entah di film. Meski dimensinya berbeda, ruhnya tetep satu, ya, dialah si Roy!

Catatan buat Mas Gong:

  1. Terima kasih, akhirnya usaha memfilmkan BSR ini disetujui, meski (dulu) sudah menolak beberapa kali.
  2. Maju terus, meski kritikan datang silih berganti, itu hanya pertanda jika Roy memang dicintai penggemarnya, tapi tetaplah jadi mediator yang kekeuh menjaga hati para penggemar sekaligus penyemangat bagi BSM.
  3. Putuskanlah lagu apa yang dipilih sebagai OSTnya. Putuskanlah siapa pemain yang bakal jadi pemeran si Roy yang dirasa paling mendekati (mayoritas) selera penggemar, penulis dan BSM. Jika masih ada nada keberatan tampung aja dulu, yang penting segera wujudkan, bukankah dead line makin menjepit.
  4. Jangan takut ditinggalkan penggemar. Karena penggemar yang baik akan memberikan kesempatan, bukan terkesan menghambat proses pembuatan film ini. Dengan menggelontorkan lagu atau calon pemain atas pertimbangan pribadinya sendiri.
  5. Ketahuilah film ini bisa makin membahanakan atau malah membumikan si Roy. Semua tergantung oleh keseriusan & ketelitian penulis, sutradara dan tim BSM.
  6. Adanya harapan jika film ini nantinya (juga) jadi idola baru remaja Indonesia sekarang. Bukan sekedar film untuk nostalgia penggemar Roy era jadoel itu memang patut diperhitungkan. Segera perjelas (sounding) setting filmnya nanti ala kehidupan remaja era 90-an atau era BB-an. Karena makin banyak usul dan keinginan para penggemar akan semakin membikin “galau” saja. Mau tua, setengah tua atau daun muda pemerannya nanti tetap harus sesuai dengan karakter Roy. Karena yang diambil adalah pesan moral yang inspiratif dari si Roy dan pendalaman karakter tokoh oleh pemainnya, jadi bukan hanya sekedar penampilan fisik pemeran si Roy semata.

Catatan buat BSM (tim film maker):

  1. Tokoh ini sudah jadi milik publik jadi keinginan penggemar memang tak bisa disepelekan
  2. Tetap berusaha keras jika cerita, visual serta atmosfernya “memang harus” menyerupai atau menyamai naskah sebenarnya.
  3. Jangan memaksakan konsep hanya karena pertimbangan komersil semata, meski sebenarnya berhak/ bisa untuk melakukan itu. Perubahan diharapkan tidak mengecewakan para penggemar.
  4. Segera putuskanlah lagu apa yang dipilih sebagai OSTnya. Putuskanlah siapa pemain yang bakal jadi pemeran si Roy yang dirasa paling mendekati (mayoritas) selera penggemar dan penulisnya.
  5. Roy memiliki penggemar yang “solid & militan” BSM bisa memanfaatkan ini atau tidak, itu tergantung dengan tim BSM sendiri dalam memproduksi film BSR.
  6. Terakhir… Ketahuilah jumlah penonton yang tidak suka membaca juga banyak…😛

Quote:

“Jika memang belum membaca novelnya, lebih baik menonton filmnya dahulu baru kemudian membaca novelnya”

“Film berdasar novel tidak akan bisa meng-cover layaknya novel secara utuh, karena novel itu memang lebih kaya & imajinatif”

Sembah sungkem,

Didiek Ganezh – salah satu penggemar yang juga menganggap si Roy sebagai tokoh inspiratif!

* * *

One comment

  1. seperti apa Roy nanti di layar….seperti apa atuh…?
    Roy yang sudah puluhan tahun tertanam dan hidup dalam imajinasi kita…bahkan hidup dan keseharian kita….
    jadina jiga kumaha atuh Roy kamu teh nanti di film…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: