Film Catatan Si Boy, Lupus, dan Balada Si Roy

[Blue Ransel]
oleh Daniel Mahendra

Tentu sebagian besar dari kita masih lagi mengingat film Catatan Si Boy dan Lupus di era 90an silam. Film-film itu mendulang sukses dan laris manis di pasaran. Kalau Catatan Si Boy mengangkat tokoh lelaki muda, anak orang kaya, tampan, pintar, alim, tapi tidak kolokan, sementara Lupus bercerita tentang kehidupan remaja SMA dengan permen karet dan rambut a la John Taylor.

Kalau Catatan Si Boy terlalu sempurna sebagai manusia, posisinya nyaris bagaikan dewa di langit yang bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan, barangkali Lupus layaknya remaja kebanyakan pada umumnya. Namun satu hal yang tak bisa dipungkiri adalah: tak semua anak muda bisa menjadi Si Boy. Pun demikian, tak semua remaja bisa memasuki pergaulan Lupus yang khas ibukota, meski ia jauh lebih membumi dibanding Si Boy.

Lantas bagaimana dengan Balada Si Roy. Dulu aku pernah membayangkan, Balada Si Roy dibuat sinetron saja dan diputar di TV tentunya. Setiap satu cerita dari serial novel Balada Si Roy dibuat satu episode tayangan. Kalau ditotal akan menjadi 103 episode, 103 minggu, selama kurang lebih 2 tahun. Supaya tidak jenuh, bisa dibuat session seperti sinetron Cinta Fitri itu (halah!).

Tapi sinetron? Mengapa sinetron? Bisa saja kan membuat sinetron berkualitas. Seperti Si Doel Anak Sekolahan, misalnya. Atau Keluarga Cemara. Menurutku itu contoh dari sedikit tayangan-tayangan cerita yang berkualitas, membumi, sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia kebanyakan, dan tidak sekadar menjual mimpi.

Tak melulu menyodorkan cerita: anak orang kaya pasti mudah dapat kerja, atau masih muda (tapi culun) sudah mewarisi perusahaan ayah atau kakeknya, berdasi, duduk di balik  meja, kerjanya cuma menandatangani berkas yang disodorkan oleh sekretaris (yang juga culun), sementara itu ia sibuk soal perseteruan cinta. Atau pertentangan kelas: yang kaya jelas berkuasa, yang miskin pasti awalnya sial, berlinangan air mata, tapi ujung-ujungnya beruntung dan happy ending, dengan episode yang dipanjang-panjangkan nyaris never ending stories (apakah kalian tidak bosan?).

Begitu pun dengan Balada Si Roy. Dibuat sinetron? Mengapa tidak. Remaja Roy yang doyan travelingke berbagai tempat, berani, punya sikap, memegang teguh persahabatan, memiliki solidaritas tinggi, cinta keluarga, humanis, membumi, disukai perempuan, dan jago menulis, rasanya bisa menjadi pengejawantahan anak muda mana pun di Indonesia. Ia wakil dari golongan kebanyakan. Ia duta dari kaum yang kerap tersisihkan. Roy bisa menjadi hero di dalam hati anak muda yang kesepian.

Roy memang bandel. Sekolah SMA-nya selalu tak beres. Hobinya nongkrong atau menggombali cewek-cewek dengan cengiran dan kedipan matanya. Cintanya nyaris selalu kandas dan terlunta-lunta. Doyan ke pantai, naik gunung, atau bertualang dari kota ke kota. Tetapi Roy adalah juga seorang lelaki sejati. Punya sikap, sedikit urakan, tapi tidak kampungan. Nilai-nilai kebenaran dan keberanian sejatinya selalu terpantul dalam cara berpikir dan tindakannya.

Kalau ia mengeluarkan pendapat, selalu menyodorkan argumen yang berani ia pertangungjawabkan. Roy adalah sebuah sikap yang terkadang untuk kalangan tertentu kerap dijadikan solusi dalam menghadapi hidup yang keras dan tak mululu mudah ini. Bisa jadi, Roy adalah cerminan bagi remaja kebanyakan yang sesungguhnya di Indonesia.

Lalu ketika datang ide untuk melayar lebarkan Balada Si Roy apakah tetap dengan “trademark” remaja generasi 90an ataukah generasi hp dan laptop? Menurutku pribadi, biarlah Roy menjadi sosok aslinya. Tak perlu mesti dibalut dengan kemajuan jaman era gedget dan internet. Bukan karena secara pribadi aku berangkat dari remaja generasi 90an yang sempat mengecap masa “tayang” Balada Si Roy, namun lebih pada: justru di situlah kekuatan Roy sesungguhnya: keterbatasan!

Roy adalah petualang. Banyak menghabiskan waktunya di jalanan. Mengongkosi hidup dengan honorarium sebagai pengarang dengan menulis cerita. Jauh dari teman dan mamanya di rumah. Menghadapi berbagai rintangan perjalanan. Kesepian dan terlunta-lunta. Rasanya menjadi tidak asyik apabila ia dengan mudah berbalas SMS dengan mamanya, atau bertelpon dengan gadis-gadisnya di setiap kota, lantas mengirimkan karangannya menggunakan laptop yang terkoneksi internet dari mana pun ia berada. Alangkah praktisnya?

Perjuangan yang Roy bangun di seluruh cerita Balada Si Roy menjadi singkat dan instan dengan segala kemudahan jaman sekarang. Tak ada lagi mesin ketik, tak ada lagi cerita tersesat di tengah jalan, karena si Roy sudah menggunakan GPS ketika bertualang. Tak ada lagi romantisme berkirim surat, karena telah tergantikan e-mail.

Keberadaan Roy yang ruhnya dibangun sebagai seorang petualang yang pergi berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, menjadi tak berjarak. Posisi dan kabar si Roy akan dengan mudah digapai oleh siapa pun. Lebih menggelikan lagi kalau Roy sudah mulai menulis status di facebook atau twitter: sedang menikmati desiran angin Pantai Losari. (halah!). Parahnya: Roy bakal selalu check-inmelalui foursquare. Jadinya petualangan si Roy lebih ramai dengan denting notification BlackBerry, riuhchating di YM menanyakan kabar si Roy, dan di setiap tempat yang ia kunjungi ia sibuk meng-uploadfoto dari iPhone. Lalu bagaimana cara bertutur remaja Roy? Menjadi khas gaya bahasa remaja jaman sekarang? Alangkah sayang, cyiiinnn…

Artinya, bisa saja membuat cerita seperti itu. Tentang seorang traveler dengan balutan jaman sekarang. Sah-sah saja. Tetapi rasanya itu bukan lagi si Roy. Bukan Balada Si Roy yang dengan segala keterbatasannya justru ia berjuang. Sesuatu yang justru merupakan ruh dari cerita Balada Si Roy: keterbatasan dan perjuangan!

Bukankah Pramoedya Ananta Toer tidak menjadikan Minke sebagai pemuda tahun 1970an saat romanBumi Manusia dirawi. Minke tetap sosok pemuda 1900an karena misi dari bangunan cerita Bumi Manusiatetap: bercerita tentang awal-awal kesadaran dan kebangkitan suatu bangsa yang kelak bernama Indonesia. Dan bukankan Soe Hoe Gie dalam film Gie tetap berenang pada eranya.

Semoga film Balada Si Roy betul-betul bermuara. Dan pembebasan tanah di komplek Rumah Dunia bisa terlaksana. Semoga semua ini bermanfaat. Never give up!

Demikian. Salam hangat selalu,
D.M.

Bandung, 19 Januari 2011

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: