Bulan di Atas Kota

[Gonjlengan 09]
Tulus Wijanarko, Jakarta

Aku teringat seorang lelaki yang mendekap gitar, sedang malam merasuk tanpa jangkar. Suaranya serak menggaruki gedung-gedung penjuru kota, ia tak ingin cahaya bulan membuatnya bagai serigala luka. Tetapi sebenarnya itu nyanyianku. Ia menculik dukaku, mengabarkannya pada semesta. Lelaki bersurai ikal itu meminta perih lukaku, dan mengirimkannya ke penjuru cerita.

Di remang kota, setiap kehendak serupa selimut tua. Para pencemburu menyelipkan bulan di lipatan mega, agar segala tak perlu terburu. Pasangan kekasih di pinggir kali meringkas cinta bergegas pergi. Dan lelaki itu seperti pengawal para peri, memejamkan mata yang membasah, memetik nada minor seperih derita para padri. Kota pelan-pelan melukisi dirinya dalam bayangan kelam, senyap tak bertulang. Namun setiap jiwa berjaga dengan hati rawan. Gemetar di balik lawang-lawang diam.
Nafasku seranting patah. Karena lelaki itu kembali mendentingkan setiap jiwa yang tersayat, mengadukan pada bulan separo ayat, hingga malam tak kuasa lagi melelapkan kota dalam khianat.

Aku selalu teringat lelaki pelintas bayangan itu, pada rintihannya yang menandai tepi malam, tercekat di matanya yang tak pernah pejam.

07/2011

Sekadar ingin berbagai puisi ini, yang inspirasinya, antara lain, berasal dari kenangan pada kelebat sosok Si Roy.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: