Balada Si Roy: Antara Kutukan dan Film Layar Lebar

[Blue Ransel]
oleh Gol A Gong

duka adalah luka
luka karena ujung pisau
tapi aku enggan mengobati
karena duka lain bakal datang

Heri H Harris
(Balada Si Roy, “Joe”: episode Roy Boy Blues, 1989)

* * *

Kalau Allah mengijinkan, “Balada Si Roy” dilayarlebarkan oleh Pt. Indika Ent., pertanyaannya: siapa yang cocok memerankan tokoh “Roy”? Beberapa kali “Balada Si Roy” gagal difilmkan. Dulu, saat saya pulang dari Jepang, tiba-tiba banyak yang mengumpat dan memaki-maki saya. Ada apa ini? Ternyata para pembaca “Balada Si Roy” kecewa dengan film “Balada Si Roy”. Saya bingung.

Saya mencari informasi. Saya disodori majalah Gadis (1990). Di sana ada berita Ryan Hidayat (alm) akan syuting film “Balada Si Roy”. Astaghfirullahaladzim. Saya kaget. Pernah – sebelum ke Jepang, ada yang meghubungi saya (kalo tidak salah dari Pt. Andalas film). Saya tidak merespon keinginan mereka untuk mengangkat “Balada Si Roy’ ke layar lebar. Saat itu; Lupus dan Catatan si Boy sedang naik daun. Tiba-tiba Ryan Hidayat (alm) ngomong mau syuting “Balada Si Roy”. Saya ingat, senior saya di HAI; Bung Syamsudin Noor Chaesy, di pintu lift gedung Kompas bilang, “Mau diperkarakan, nggak?” Saya menggeleng. Tidak perlu. Nanti Allah akan memberi hukuman kepada yang dzalim… Walaupun sedih, mobil crew film Balada Si Roy meledak di tol Jagorawi. Pemain utama perempuannya mengalami luka bakar dan diganti. Dua crew-nya tewas!

Kemudian senior HAI yang lain, Agus Langgeng, menurunkan wawancara dengan Ryan Hidayat. Saya tersenyum saja. Ryan mengklarifikasi, ternyata judul filmnya “Si Roy”, bukan ‘Balada Si Roy”. Ryan juga heran, kenapa judulnya tidak “Si Johni” saja? Saya tidak ambil pusing. Ketika saya nonton filmnya dengan Toto ST Radik di Serang, tampak sekali si penulis skenario (Achiel Nasruin, ya?), berusaha mengambil spirit “Balada Si Roy”; ransel, cewek, dan geretan Zippo! Tapi, surat-surat terus berdatangan dan menyalahkan saya. Sebetulnya surat-surat di pembaca HAI ada juga yang menginginkan “Balada Si Roy” difilmkan dan menyodorkan nama Chris Sallam (adik Roy Marten dan Rudi Salam).

Kemudian waktu menggelinding like a rolling stones (Bob Dylan, man!). Ada keinginan BSR difilmkan, tapi di sisi lain, saya punya film BSR versi sendiri. Erna Santoso (sekitar 1998) pernah nyoba, buku pertama mau disinetronkan. Tapi, gagal karena krismon. Kemudian Imam Ghozali (pembaca fanatik BSR) dan Dasanto, teman dekat saya, ngipasin saya, untuk bikin sinetronnya juga (2000). Saya diberi kepercayaan untuk ikut di crew. Selain nulis skenario, juga mensupervisi.

Maka dimulailah casting pemain. Saya minta kontes Roy dengan HAI. Tidak dituruti. Konflik pertama. Kemudian muncul nama-nama: Bucek Depp, Agus Kuncoro, Lucky (iklan Gudang garam Surya dan vocalis Elemen), Ali Zaenal. Irgy, Syahrul. Saya naksir Bucek Depp atau Agus Kuncoro. Tapi, yang terpilih Lucky. Tidak apa-apalah. Tabah Penemuan jadi Dullah. Lola Amaria jadi Wiwik dan Hemalia Putri. Kemudian Lola dan Hemalia jadi ngetop di “Melodi cinta” (bareng Denny Malik). Yang jadi Ani, lupa saya (Puput Melati?). Yang paling saya suka, ada “Joe”, anjing herder dari angkatan laut! Hanya, di kostum gagal juga. Tidak akan jadi trendsetter… Sebetulnya saya pingin kotak-kotak flanel, jeans lusuh, Zippo, ransel, puisi, dan musik rock, jadi ikon. Kemudian itu ada nyelip di tokoh Rangga (Ada Apa Dengan Cinta, Mira Lesmana).

Kemudian sutradara. Ini konflik. lagi. Imam Ghozali keluar. Saya menyodorkan sutradara (lupa lagi, Chaerul Umam kalo tidak salah) dan Dedi Setiadi. Tapi yang dipilih Agus (?) dari TVRI. Kacau. Saya mendampingi saat syuting, bikin bete. Saya ingin gambar-gambarnya artistik dan dinamis, nggak nyampe. TVRI banget! Setelah jadi demo, saya nonton. Saya preview ke HAI, hmm… Saya bawa ke RCTI, hmm… Untung, jika demo gagal, proyek tidak diteruskan. Sebetulnya kasihan juga sama temen saya itu. Dia habis sekitar 90 jutaan. Saat itu saya berpikir, sulit juga memproduksi Si Roy. Truk, kereta api, anjing, romance, ideologi fighting spirit (kayak outsider SE Hinton yang mengorbitkan Matt Dillon, Patrick Swayze, Marteen Sheen, Tom Cruise).

Pada 2002, Prami Rachmiadi (pembaca fanatik BSR juga) dan Yayang ngedeketin saya. Setelah novel saya: “Pada-Mu Aku Bersimpuh” disinetrokan saat puasa (2001, RCTI), mereka ingin “Balada Si Roy” disinetronkan juga. Saya mikir-mikir. Kutukan “Balada Si Roy” belum usai, pikirku. John de Rantau sudah bikin Ali Topan Anak Jalanan. Saya naksir sama John de Rantau. Boleh juga ini sutradara. Punya ruh lelaki juga!

Akhirnya saya terima tawaran mereka. Uangnya saya pakai utuk membangun Rumah Dunia. Saya sudah mengkhianati janjiku sendiri, bahwa “Balada Si Roy” memiliki versi film beragam di imajinasi para pembacanya. Tapi, Indika membebaskan saya untuk menulis skenario dan pemain. Saya menyodorkan Bucek Depp, Agus Kuncoro, Fatir, dan Ali Zaenal. Tapi, justru yang disodorkan Ari Sihasale. Kata Prami dan Yayang, “SCTV pinginnya Ale.” Saya sebetulnya keberatan, karena Ale sudah lekat dengan “Ali topan”. Industri, man! Saya mulai gerah. Apalagi setelah skenario saya dianggap sulit diikuti crew! Trademark Si Roy banyak yang dihilangkan. Ale yang sudah dewasa membuat saya harus merubah karakter Roy yang tidak SMA lagi. Roy jadi mahasiswa dan bekerja di operator gunung. Anjing herder; Joe, dihilangkan pula! Saya sempat berdiskusi dengan Ale di Puncak Pass. Ale bersemangat dan pulang ke Papua untuk latihan rock climbing.

Saya mundur pelan-pelan. saya harus fair. Ya, sudah. Biarkan saja mereka memproduksi BSR dengan tenang. Saya tenggelam di Rumah Dunia yang baru saya tanam bersama istri tercinta; Tias Tatanka. Ari Bulu jadi sutradara. Rick dan Nucke yang menulis skenario. Syuting di puncak, Sukabumi. Saya sempat hadir saat Ale rapling di dinding kaca Astra Graha; masang banner produk suplemen minuman. Akhirnya, kutukan itu datang juga; Ale menikah dengan Nia Zulkarnaen. Balada Si Roy gagal tayang di SCTV! Kata Yayang, tayang di Malaysia, judul baru: Idola Kampus.

Saya jadi penasaran. Kenapa BSR sulit sekali dialihkan ke bentuk audio visual? Ransel, debu jalanan, drag race, tawuran antar geng sekolah, cewek, rokok, cimeng, kereta api, truk, jeans belel, rambut gondrong, senyum nakal khas remaja cowok kalo liat cewek cantik, dan cinta sejati anak sekolahan, solidaritas antar teman, semangat berbagi, cinta lingkungan, sayang ibunda…

Saya sekarang pada posisi ingin sekali memfilmkan BSR ke layar lebar. Art film, tapi juga komersial. Kalo Indika entertainment tertarik, ada tahapan-tahapan seperti kontes Roy, disain kostum, lagu tema (dulu saya naksir Elang dari Dewa 19), ransel, Zippo, dan puisi. Tokoh Roy harus memliki aura lelaki, ruh fighting spirit. Keliarannya ada pada Bucek (walau artikulasi Bucek memiliki kelemahan). Kita lihat saja nati.

Tapi, kalo Indika tidak tertarik, saya akan lelang Balada Si Roy kepada produser yang mau. Pertanyaannya kenapa saya ngotot Balada Si Roy ingin difilmkan? Saya ingin menularkan spirit ke generasi muda di negeri ini, yang sudah loyo, banci, dan cengeng! Industri TV dalam keadaan darurat! Mereka terus mempropagandakan lelaki Indonesia itu banci.

Selain itu, tentu saya tergiur dengan fenomena Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta. Dengan perolehan uang seperti Andrea Hirata dan Habiburahman, saya bisa membangun lagi Rumah Dunia lebih besar. Saya butuh sekitar 500 juta untuk membebaskan lahan seluas 2000 meter persegi di depan Rumah Dunia. Tanah itu ideal sekali jika dibangun gedung kesenian, teater arena seperti di TIM. Saya rpihatin melihat para penggiat kesenian di Banten yang kalo ingin mentas, harus bergerilya di trotoar, di aula sekolah…

Saya ingin membangun public area; lapangan basket, play ground, dan kios-kios seni. Saya ingin geerasi muda di Banten punya pilihan untuk berolahraga. Rumah Dunia di kampung, jadi sehat sekali lingungannya. Tidak ada polusi. Rumah Dunia menjadi taman budaya dan teintegrasi dengan masyarakat. Akan ada transformasi dari orang kota (modern dalam berpikir) ke orang kampung (masih tradisional).

Hmmm… You may say I am dreamer… (John Lennon). 
Hal lainnya, naik haji (mudahkan ya, Allah!)

Hmmm… wake up, man!
Mimpi kali ye
Kita lihat saja nanti
Bukankah dunia ini milik orang-orang pemberani?

23 Jan 09

* * *

One comment

  1. Pandangla mata malaikat sekali pandang kamu akan kena hipnotis, dia akan nengambil hatimu dan kamu qkqn membayar harganya… Bravo LAKI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: