Racun dari 5 Jari Gol A Gong

[Gonjlengan 07]
Denie Kristyono, 32, Blitar

Semenjak mulai bisa membaca, saya jadi terbiasa membaca apa aja, nggak ada urusan dengan bahan bacaan itu apakah pantas atau nggak pantas dibaca oleh anak kecil. Maklum, kota Balikpapan di tahun 80an masih tertinggal, belum segemerlap hari ini. Kebanyakan toko buku waktu hanya menjual buku-buku pelajaran sekolah. Jarang sekali ada yang menjual komik atau novel. Kalaupun ada novel, palingan juga novel-novel ‘dewasa’ karangan Enny Arrow, Nick Carter dan Freddy.S – yang diakui atau tidak, tiga nama itu juga legendaris pada masanya. Setuju nggak? Udah, setuju aja deh ya, daripada lo benjut! Hehe!

1989 Saya masih kelas 3 SD waktu itu, disaat anak-anak lain patuh pada ibu mereka jika disuruh tidur siang, saya lebih memilih kabur dari kamar, lalu kelayapan sambil menarik mobil-mobilan Jeep CJ-7 plastik dengan benang, berkeliling ke manapun saya suka, dari mulai jalan-jalan sekitar kompleks, sampai ke jalan besar di luar perumahan tempat tinggal saya dulu. Ngebolang gitu istilahnya jaman sekarang.

Di suatu sore yang gerah, saya dan Jeep plastik mampir ke kios majalahnya Udin Koran di depan Toko Johnson – Gunung Sari, untuk sekedar numpang baca komik “Donal Bebek” , di situlah kemudian saya mulai mengenal majalah HAI, tempat di mana Roy nongkrong sebagai tokoh serial, dan kalau tidak salah ingat,“Tomboy Surprise” adalah judul pertama yang saya baca ketika berkenalan dengan si Roy Boy Haris.

Sebelumnya saya hanya menyukai bacaan yang banyak gambarnya seperti komik, males banget baca cerita yang tulisan doang, namun tulisan Gola Gong itu emang beda, sanggup membius seorang bocah SD untuk mengikuti kisahnya dari awal sampai akhir, dan sejak saat itu saya mulai kecanduan dengan BSR, lantas jadi rutin setiap hari Selasa “menjumpai” Roy di kios majalah.

Bukan hanya Roy yang menemani saya tumbuh dewasa, tapi juga teman-teman seangkatannya macam Ra’, Kekes, Kori, dan Fay, mereka adalah tokoh-tokoh cerita serial dan cerbung karya bubin LantanG yang sama-sama lahir di majalah HAI.

Tahun 1993, saya sudah tercatat sebagai siswa SMPN 6 Balikpapan, mulai tumbuh sebagai remaja keren…. Weits…:D begitu juga dengan kota Balikpapan yang mulai berbenah sebagai kota selayaknya kota. Mall mulai dibangun, toko buku Gramedia pun mulai buka cabang, dan saya yang dasarnya suka numpang baca seakan menemukan surga buku di sana, apalagi masa itu buku-bukunya belumlah bersegel plastik, jadi bebas dibaca hehe.

Saat itu BSR sudah dibukukan, 2500 perak harganya, namun jumlah rupiah tersebut masih terasa mahal untuk kantong saya saat itu, yang mana uang sakunya cuma 500 perak sehari, itu pun hanya untuk ongkos angkot.

Yeah, butuh pulang sekolah jalan kaki paling nggak selama 10 hari dulu buat dapetin 1 buku BSR, belinya juga nggak urut, biasa lah, distribusi luar Jawa, kadang kebagian stok, kadang nggak kebagian. Yang saya inget banget, seri “Avonturir” adalah buku pertama yang saya dapat.

1994, naik kelas 2 SMP, saya pindah ke Wlingi, salah satu kota kecamatan di Kabupaten Blitar- Jawa Timur, masih Endonesa. Damn! Itu kota kecil buanget, nggak ada gemerlapnya kota deh pokoknya, waktu itu sih… sekarang udah agak mendingan. Pokoknya waktu itu serasa kembali ke masa dark age.

Perburuan buku BSR pun dimulai lagi, namun sialnya di Blitar waktu itu nggak ada toko buku besar, kalaupun ada, sama seperti di Balikpapan era 80an, cuma jual buku-buku pelajaran. Jadi untuk melengkapi koleksi BSR, harus ke Malang dulu yang jaraknya sekitar 75 Km, satu setengah jam naik bis dari Wlingi.

Akhirnya sekitar tahun 1995 baru bisa mengoleksi lengkap 10 seri BSR, membacanya ulang dari awal sampai akhir, mengkhatamkan lalu mulai mengamalkanya dengan melakukan perjalanan kecil-kecilan bersama teman-teman sebaya yang teracuni juga.
Bukan hanya BSR yang saya koleksi, tapi juga semua novel karya Gola Gong; Bangkok Love Story, Langit Tak Lagi Mendung, Tembang Kampung halaman, Happy Valentine, Kupu-kupu pelangi, Hari Senjakala, dan lain sebagainya, termasuk beberapa tahun kemudian si Lazuardi yang nggak kelar itu? Dia apa kabar ya?😀

Di edisi buku BSR saya baru tahu, kalau cerita-cerita favorit saya itu dihasilkan dari 5 jari sakti Gola Gong, sebelumnya saya nggak pernah tahu kalau Gola Gong itu hanya punya satu tangan, setelah melihat fotonya yang di kereta saya baru tahu hal tersebut.

Tokoh-tokoh rekaan karya Gola Gong emang jadi teman di masa pertumbuhan, dan yang paling sialan emang Roy Boy Harris, rohnya memang sangat merasuk, seakan-akan dia itu hidup dan gentayangan.

Masa SMA saya di Malang, setiap weekend menyandang ransel buat hiking ke gunung-gunung terdekat, mulai dari Panderman, Penanggungan, Arjuno, Argopuro, hingga Mahameru sebagai puncak tertinggi di pulau Jawa sudah pernah saya singgahi di rentang waktu umur 16 – 19 tahun.

Jaket jeans lusuh juga kostum andalan masa itu, walaupun saya nggak pake Levi’s, soalnya mahal cuy! Hehe… Saya pakai jeans keluaran Wrangler yang harganya lebih bersahabat. Hanya spirit petualangannya Roy yang menular, saya nggak sebegitu naifnya meniru kebiasanya merokok, apalagi ngobat. Nggak ada hubungannya antara rokok, Zippo, dan ke-macho-an seorang laki-laki. Ah, sesat, itu ajaran sesat! Jangan ditiru!😀

Setiap liburan pun berkelana ke kota-kota lain di pulau Jawa, belum semuanya memang, namun masa remaja itu saya ingat kalau pernah juga bersama tiga kawan bergembel-gembel ria ke Bali hingga Sumbawa.

Ingin rasanya mengulang masa-masa itu, jiwa ini memang masih merasa muda, namun darah terus menua, mungkin sekarang sudah nggak secuek dulu lagi, kalaupun ingin jalan, ya jalan dengan cara yang benar, maksudnya beli tiket kereta, atau naik bis, dan nggak nebeng truk lagi… hehe, lebih seru sih kalau ber-hitch alias menumpang mobil lewat menuju arah yang sama, tapi capek bos! Dan waktunya nggak bisa diprediksi.

Roy Boy Harris ibarat teman lama, masuk di tahun 2000an ia sempat terlupakan, dan kini kisah remaja bandel itu akan difilmkan! Rasanya seperti mimpi. Telat memang, tapi mendingan telat ya daripada terlambat, iya kan?

Welcome back, Roy!

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: