Balada Si Boy, Catatan Si Roy

[Blue Ransel]
oleh Raistiwar Pratama

Sengaja memang saya menulisnya demikian, bukan tertukar atau salah tik satu huruf. Dasawarsa 1980-an merupakan pasang naik Orde Baru, ketika Peristiwa Tanjung Priok, Peristiwa Warsidi Lampung, dan Pembajakan Woyla bertengger di halaman depan Harian Poskota dan Kompas, serta  Dunia dalam Berita TVRI. Namun anak muda di bagian Barat Pulau Jawa ini masih anggap politik itu tabu atau bahkan politik itu kotor. Biarlah hidup berjalan sebagaimana adanya, carpe diem kira-kira begitu. Sebentuk perlawanan anak muda pun mengemuka, telak memang tetapi tersirat, ataupun kalau tersurat harus mampu pandai pahami metafora dan bahasa. Eufemisme bahasa yang para anak muda ini lawan, memang merupakan keterpaksaan, atau lebih tepatnya Pemerintah paksakan kepada rakyatnya. Pemerintah terus ciptakan musuh, baik ekstrem kanan—terutama dari pihak Islam yang dilekatkan pada Masyumi—maupun ekstrem kiri—terutama dari pihak Kiri yang cerobohnya ditujukan pada Partai Komunis Indonesia dan Partai Sosialis Indonesia. Bila sebelumnya Soekarno jadikan ‘politik sebagai panglima’, maka pada gilirannya Soeharto jadikan ‘ekonomi sebagai panglima’.

Lewat jurnal Prisma terbitan LP3ES, harian The Jakarta Post, majalah remaja Hai, dan media dengar radio Prambors; perlawanan laten anak muda kumandangkan seakan-akan mengamini pendapat James C. Scott bahwa every day form of silent revoltmerupakan weapon of the weak. Eufemisme bahasa pun menjelma menjadi sebentuk dogma Pemerintah Orde Baru yang sulit takluk. Maka dari itu menurut wartawan senior yang beberapa korannya pernah dibredel dan menghuni penjara pada masa dua pemerintah juga berpendapat bahwa eufemisme berdampak buruk, dua sekaligus: menghilangkan pengawasan sosial dan membutakan masyarakat dari kenyataan sehari-hari.

Dua perlawanan anak muda tadi beriringan melewati jalur budaya pandang-dengar dan budaya baca-tulis. Jalur budaya pertama anak muda tempuh lewat menyimak siaran radio Prambors yang melahirkan Catatan Si Boy untuk anak muda ramai-ramai tonton di bioskop. Keempat film Catatan Si Boy sukses, bahkan terakhir pada 2011 masih sempat sedikit mengulang setidaknya kerinduan anak muda Jakarta dasawarsa 1980-an. Jalur budaya kedua melalui alter-ego Gola Gong, seorang pelancong yang menuliskan catatan harian perjalanannya, lalu diterbitkan secara bersambung di Majalah Hai, dan dibukukan sebanyak 10 jilid oleh Gramedia lalu kini sebanyak 4 jilid oleh Penerbit Hikmah. Balada Si Roy—kumpulan catatan harian Gola Gong tadi—merupakan sumbu gerakan anti kemapanan. Roy menjelajah Bandung, Serang, Sukabumi, Cianjur, Semarang, Solo, Yogyakarta, Bali, dan luar Jawa. Roy membangkang, keluar dari SMA negeri pindah ke SMA swasta, minum minuman keras, menjadi pecandu, mudah terpikat dan memikat perempuan, darah mudanya mudah tersulut emosi, dan bimbang atasi egonya untuk menghormati ibunya dan almarhum ayahnya. Roy—anak tunggal itu—memang semakin bijak seiring waktu, kebijakannya mulai mengakar pada salah satu bab berjudul Ramadhan. Kini Balada Si Roy pun masih membayangi Labirin Lazuardi, karya terbaru Gola Gong. Puisi yang membuka setiap bab, anak muda, broken home, dan anti kemapanan; namun berujung pada pendewasaan. Kali ini setiap awal bab, sang istri—Tias Tatanka—yang menuliskan bait-bait puisinya.

Sejatinya sebermula dari judul saja, keduanya sudah melawan eufemisme bahasa dan menyalutkan persamaan dan persaudaraan. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) pada 1972 telah menorehkan kepastian aturan bahwa artikulaatau artikel atau kata sandang si merupakan lawan dari sang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, si merupakan kata yang dipakai di depan nama diri (pada ragam akrab atau kurang hormat). Adapun sang merupakan kata yang dipakai di depan nama orang, binatang, atau benda yang dianggap hidup atau dimuliakan. Akan tetapi, kedua karya itu melalui budaya pandang-dengar dan budaya baca-tulis pun berhasil tanpa berat beban aturan, justru menyuarakan ‘kepentingan’ anak muda, baik kelas menengah perkotaan yang kaya, saleh, sekaligus playboy; maupun remaja labil yang hidup penuh keterbatasan namun masih dapat menghirup udara kebebasan setiap akhir pekan dan liburan panjang sekolah.

Akhirnya, siapakah yang menghidupkan bahasa? Pemerintah lewat serangkaian aturan yang jelas-jelas tertulis? Ataukah rakyat atau warga negara yang aktif melakukan kegiatan tutur-lisan dan menulis-bertutur? Roy pun tuliskan inisial namanya di ransel biru, RBH untuk Roy Boy Haris. Ya sudahlah Boy!

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: