Demi Sebuah Peran!

[Gonjlengan 06]
Qodhiel Muhammad, Jakarta

“Hiduplah kamu bersama tenaga dan keindahan kata. Pergilah ke timur.
Pergilah ke timur, anak muda. Pergilah pada matahari yang tak pernah tenggelam.
Jalani hari-harimu dengan hal-hal baru. Kau pasti melihat betapa timur selalu
memulai. Teruslah berjalan ke timur. Dan kau akan menemukan betapa barat lebih
cepat berputar.”
Asih Purwaningtyas
[Balada Si Roy ke-8 / Kapal]

Ya, pergilah ke timur!
Itulah kata hatiku yang mendadak keluar dengan sendirinya, setelah mendapat tawaran untuk melanjutkan sekolah di ujung timur Pulau Jawa, oleh Almarhum Ayah.
“Ayah akan mengantarmu, dan menitipkanmu pada salah satu kenalan ayah disana. Agar kamu dapat merasakan ‘kerasnya’ dunia lelaki, dunia yang penuh gejolak untuk tetap survive. Dalam bayang-bayang pantai dan senja, juga dalam aroma magis alam pesisiran, di Bumi Blambangan, Bumi Minak Djinggo, Banyuwangi.”

Lalu setelah ini apa?
begitulah berulang kali aku bertanya
sambil menyeret beribu impian
kutahu tiada yang ‘kan menyahut
di bumi asing yang kian keriput
cuma deru angin, cuma deru angin!
Toto St Radik
[Balada Si Roy ke-5 / Blue Ransel]

Beribu bayangan tentang apa dan bagaimanakah ranah pesisir Banyuwangi itu? Semuanya berkelebatan dalam benakku. Berjalin berhimpitan dengan semua rasa yang telah ada selama ini.

Umurku beranjak 17 saat itu. Tergolong “telat” untuk memasuki bangku SMA. Karena selepas Sekolah Dasar, usiaku banyak dihabiskan di bangku Terminal-terminal kecil, Pasar-pasar, Masjid-masjid, juga beberapa Pondok Pesantren, persawahan yang menghijau dengan gubuk-gubuk kecil yang berada di tengahnya, serta senyum bersahaja penduduk desa.

Aku memutuskan “keluar” dari kehangatan rumah, keluar dari kebisingan Jakarta yang mulai menggeliat berubah menuju hutan belantara batu di pertengahan tahun 1993. Untuk mencoba merasakan suasana baru, aroma kesegaran alam-alam pedesaan, untuk menjadi seorang peziarah, kalau aku boleh menyebutnya begitu.

Kembali ke tanah nenek moyang, Bumi Majapahit… itu adalah beberapa hal yang mendorongku untuk pergi. Tetapi yang terutama adalah; Roy!

Ya, Roy!

Roy-lah yang menginspirasiku untuk melangkah menuju Timur! Ke arah matahari yang tak pernah tenggelam! Dan itu dimulai saat aku mencoba menegaskan pencarian, di usia yang masih sangat belia, 12 tahun! Benakku telah dipenuhi dengan sosok Roy, dengan Blue Ranselnya…

Dan akhirnya, dengan mantap, kubulatkan tekad,
Demi sebuah peran!
Sebuah peran yang kemudian tak pernah kusesali…
Sebuah peran yang membentuk kepribadianku, juga kehidupanku sekarang ini…

…and Roy For All!!
Gracias…

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: