Tangan Palsu Menaklukkan Jakarta

[Blue Ransel]
Di Balik Layar #2
oleh Gol A Gong

Saya memutuskan jadi penulis sebetulnya karena perlakuan diskriminasi pemerintah waktu itu. Tangan kiri saya diamputasi sebatas sikut pada tahun 1971, karena terjatuh dari pohon (cerita tentang ini ada di calon buku saya “BORN: Langkah Itu Sudah Dimulai”, yang sejak Desember 2004 dimuat bersambung di “Cermin” majalah MATABACA. Rencananya buku ini akan diterbitkan CAKRAWALA Publishing). Ketika saya tahu, bahwa orang cacat itu sulit sekali mencari pekerjaan, terutama jadi pegawai negeri (guru), saya memilih masuk fakultas sastra. Hobi membaca dan menonton film yang tertanam sejak dini mencuat dan muncul ke permukaan menjadi modal untuk saya bertahan hidup. Saya akan menggeluti dunia kepenulisan sebagai profesi, sebagai sarana untuk mencari nafkah, untuk beribadah, dan untuk menghidupi keluaraga kelak.

Emak sudah mendukung sejak awal. Tapi Bapak masih setengah-setengah. Bapak hanya menyuruh saya untuk merasakan dulu jadi seorang pengarang. Pada tahun 1988 umur saya genap 25 tahun. Saya memutuskan berhenti kuliah dan ada manuskrip cerita fiksi remaja menumpuk di kamar saya!

“Saya akan ke Jakarta, Mak. Menyerahkan cerita serial ‘Balada Si Roy’ ini ke majalah HAI. Saya yakin akan tembus. Akan goal!” saya meyakinkan Emak waktu itu.

Emak mendukung. Dan Emak memecahkan celengannya. Sebanyak Rp. 1,5 juta diserahkannya pada saya. Pada tahun 1988 uang itu sangatlah banyak. “Uang ini sebetulnya Emak simpan untuk bekal pernikahan kamu,” kata Emak. Tapi saat itu Emak menyuruh saya membeli tangan palsu. “Untuk apa tangan palusu, Mak?”

Emak menjelaskan, bahwa Jakarta itu kejam. Bahwa orang-orang Jakarta selalu menilai orang dari kulitnya dulu. “Bisa-bisa, ketika kamu hendak masuk ke redaksi HAI, satpam di lobbi sudah mengusir kamu, karena tanganmu yang buntung itu! Dikiranya kamu mau minta sumbangan nanti!”

Emak beralasan bicara seperti itu. Saya memang temperamental! “Bisa-bisa cita-citamu kandas di tengah jalan hanya karena soal sepele. Untuk orang yang mempunyai kekurangan seperti kamu, hidup mesti punya strategi!”

Hidup mesti punya strategi! Kalimat Emak terngiang-ngiang terus di telinga. Betul juga. Saya turuti permintaan Emak. Saya ke Sunter, Jakarta Utara, membeli tangan palsu. Buatan Taiwan. Harganya Rp. 1,3 juta. Sisa Rp.200.000,- saya gunakan untuk modal hidup di Jakarta.

Sebelum berangkat, saya pakai dulu tangan palsu itu di Serang. Saya tunjukkan pada teman-teman saya di jalanan. Hah! Mereka rata-rata tidak menyetujui saya memakai tangan palsu! Sialan! Padahal saat itu saya memakai jaket kulit, berlagak jadi “Ali Topan Anak Jalanan”! Saya jelaskan pada mereka bahwa ini adalah strategi hidup. Bagian dari membangun imej diri. Bagian dari pemasaran (menjual diri, hahahaa…!)

Maka berangkatlah saya ke Jakarta di akhir Desember 1987. Tujuan saya ke alamat kos Herdi Kusmayadi, kawan dekat (anak asuh Emak, yang di “Balada Si Roy” saya jdikan tokoh “Edi”) di SMAN 1 Serang. Herdi mengontrak kamar di perkampungan padat di belakang Polda (sekarang sudah jadi kawasan bisnis). Saya menginap di sana. Herdi kaget melihat saya memakai tangan palsu.

“Untuk menaklukkan Jakarta!” kata saya. Lalu Saya serahkan 4 episode “Balada Si Roy” pada Herdi. “Bacalah!” Herdi pun membaca. “Besok akan saya serahkan ke majalah HAI.”

Sementara Herdi asik membaca, saya tertidur. Pagi hari, Herdi membangunkan saya. Dia menatap saya dengan wajah berbinar, “Itu tulisanmu?” Iya! “Bagus!” pujinya jujur. Dia tidak merasa heran, karena saya sudah pernah memulis puisi di majalah HAI. Dialah orang pertama yang “merampok” honorarium puisi saya (sebesar Rp. 3500,-).

Bahkan saya sering mengisi rubrik puisi majalah dinding sekolah (yang digawangi Toto ST Radik, tapi kami belum akrab waktu itu!) dan pernah membuat majalah kumpulan cerpen seperti Anita Cemerlang (sudah almarhum). Majalah itu saya gawangi sendiri. Cerpennya saya yang buat. Begitu juga ilustrasinya. Majalah itu berputar dari satu kelas ke kelas lain. Majalah itu masih saya simpan dan jadi artefak berharga buat saya. Kondisi memang rapuh. Usia majalah itu sudah 22 tahun!

Dengan tangan palsu dan jaket jeans Levi’s yang saya beli di Pasar Ular, Jakarta Utara, saya masuk ke gedung Kompas di Palmerah Selatan. Semuanya lancar. Satpam di lobi tersenyum dan menayakan mau ketemu siapa? Saya jawab santai, “Mau ada pemotretan di majalah HAI!” Hahahaha! Satpam itu menganggap saya sebagai cover boy! Saya naik ke lantai 3. Saya masuk ke redaksi HAI. Menunggu sebentar di ruang tungu. Saya diterima Mbak Retno, redpel HAI waktu itu (Pemrednya Arswendo Atmowiloto).

Dengan yakin, saya sodorkan manuskrip “Balada si Roy” ke Mbak Retno. “Saya punya serial yang berbeda. Kalau Lupus itu permen, yang ini batu. Kalau Lupus itu musik pop, yang ini rock!” Saat itu serial Lupus (Hilman) sedang mewabah. Rambut John Taylor “Duran Duran” dan permen karet jadi ikon remaja!

Saya meminta jawaban cepat. Mbak Retno menyuruh saya kembali seminggu lagi. Dalam hati saya merasa yakin, bahwa serial “Balada Si Roy” ini akan terpampang di majalah HAI dan disenangi pembaca!

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: