Surat Kaleng Jalu Lalana untuk Roy Boy Harris

[Gonjlengan 03]
Aldi, 24, Bandung

Dulu, waktu saya masih berseragam putih-abu, saya termasuk siswa yang ekstrimis, tapi enggak punya kawan (maklum, ego masih tinggi-tingginya). Jangankan baca buku, sekolah saja sering bolos. Parahnya lagi, setiap masuk sekolah, saya pasti kabur dari jam pelajaran. Menyelundupkan diri lewat jalan belakang sekolah atau lompat pagar depan. Ditambah ‘kebiasaan’ berantem sama sekolah lain cuma karena hal sepele. Pokoknya, itu masa yang paling berat buat saya, selain kedua orangtua saya juga sibuk sama pekerjaan mereka masing-masing, soalnya beliau kerja di luar kota dan jarang sekali ada di rumah.

Alhasil, laporan-laporan buruk dari sekolah sampai juga di telinga Ibu sama Ayah. Dan tulisan yang segede Gaban, dengan tinta warna merah nongol juga di buku rapot saya. Tulisannya: TIDAK DAPAT MELANJUTKAN KENAIKAN KELAS. Seketika, dunia saya hancur, runtuh, dan Ibu sama Ayah jelas-jelas murka semurka-murkanya. Tapi, melihat gelagat beliau, tidak ada sikap marah gara-gara tulisan yang sadis itu tertera di buku rapot saya. Mungkin beliau sudah pasrah oleh sikap anaknya yang badung ini. Jujur saja, kontan saya merasa malu dan merasa so guilty pisan.

Suatu hari, sebelum Ibu sama Ayah pergi lagi ke luar kota setelah memeriksa nilai rapot saya yang TIDAK memuaskan itu. Ibu memberi saya bingkisan. Bingkisannya dibalut rapi seperti kado ulangtahun. Kata Ibu, “Ini hadiah buat kamu, soalnya kamu enggak naik kelas.”. Entah itu menyindir, atau ‘ada udang di balik batu’, saya terima saja bingkisan itu, dan Ibu sama Ayah pergi seperti biasa.

Malam-harinya, saya buka juga bingkisan itu. Rupanya buku-buku ‘jadul’ yang nampak membosankan. Cover-nya kumal, kertasnya coklat, pokoknya bikin males buat dibaca. Jangankan dibaca, disentuh juga males, apalagi dibaca. Tapi waktu itu, saya sempat membaca judul buku-buku itu. Judulnya ‘Balada Si Roy’. “Apa sih Ibu ngasih hadiah kaya gini?” saya menggerutu waktu itu.

Beberapa hari, buku-buku itu menumpuk di sudut kamar, dan sikap saya yang ‘Bad Boy’ masih saja dilakoni (memang enggak kapok sih, padahal udah enggak naik kelas). Sampai akhirnya, saya capek juga berantem, teler, bolos, godain cewek, berantem, teler, bolos, godain cewek melulu seperti itu. Kayaknya, hidup tuh enggak ada variasi sama improvisasi-nya. Kemudian iseng-iseng saya baca juga buku yang Ibu hadiahkan buat saya waktu itu. Judulnya ‘Balada Si Roy – Joe’.

Sedikit-sedikit saya baca. Mulai dari perkenalan si Roy dengan Dewi Venus, pertikaian dengan Borsalino, bertemu sahabatnya sampai bikin genk RAT, dan kehilangan sobat kental seperti Joe dan Andi. Saya pikir, “Siapa si Roy ini? Kok saya merasa disindir sama tingkah-lakunya si Roy?”.

Sejak saat itulah, saya jadi tertarik untuk terus membaca buku-buku hadiah dari Ibu itu. Dan otak saya mulai punya bumbu-bumbu positif karena si Roy. Pertama, saya jadi doyan baca buku, bahkan menulis. Kedua, sikap-sikap buruk saya sedikit demi sedikit luntur (saya cenderung jadi pendiam, tidak meledak-ledak kayak dulu). Ketiga, karena saya juga memang sering bertualang begitu (mungkin dulu dikenal ‘Avonturir’ dan sekarang lebih dikenal ‘Backpacking’), saya jadi merasa punya sobat kental yang namanya si Roy itu.

Dari titik itulah, saya BENAR-BENAR berubah. Dari seorang ‘Real Bad Boy’, jadi turun pangkat ke ‘Bad Boy’ saja (Hehehehe). Toh, saya juga berada di lokasi abu-abu kayak si Roy. Terlalu gelap untuk disebut putih, dan terlalu terang untuk disebut hitam. Membuat dosa, tobat lagi, bikin dosa lagi, terus tobat lagi. Manusawi sekali!

Akhirnya, saya juga membuat nama samaran meniru Bapak Heri H. Harris a.k.a Gola Gong. Nama samaran saya Jalu Lalana. Bahkan, saya gunakan nama itu untuk cerpen-cerpen saya yang bergenre ala Balada si Roy sebagai tokohnya. Saya pikir si Jalu dan si Roy itu seorang sahabat, karena saya merasa si Roy itu telah menemani saya ketika hal buruk waktu itu muncul. Dan perasaan saya yang ‘merasa’ bersahabat dengan si Roy itu saya tulis juga pada cerpen-cerpen saya, tepatnya pada sosok si Jalu itu. Benar-benar, saya merasa si Roy itu hidup, dan seperti saya kenal baik saja (Hehehehe, urang asa ge-er sorangan kieu).

Tapi, saya juga tidak melupakan Ibu yang sudah memberikan bingkisan itu. Gara-gara bingkisan itu, saya jadi kenal si Roy. Rupanya, ide Ibu itu berhasil membuat anak badungnya ini jadi jinak. Beliau tahu betul apa yang harus jadi penawar buat racun ini. (Note: Rupanya, Ayah sama Ibu adalah pelanggan majalah Hai, dan beliau bertemu si Roy di sana).

Nyatanya, si Roy berhasil dibawa Ibu kepada saya supaya jadi sahabat bermain saya. Supaya saya enggak merasa sendirian. Tidak lupa juga, untuk Ibu saya, saya menuliskan lagu berjudul “Lelaki Pejalan”. Judul lagu itu saya ambil juga dari novel ‘Balada si Roy’ sebagai ucapan terima kasih untuk Ibu, dan gadis pujaan saya (tepatnya, Dewi Venus saya, hehehe).

Terima kasih Ibu, sudah mengenalkan saya sama si Roy. Dan terima kasih Roy, sudah mengajarkan saya jadi lelaki bad-boy yang bertanggung jawab. Terima kasih juga kepada Gola Gong yang telah melahirkan si Roy, menginspirasi saya untuk menciptakan tokoh Jalu Lalana dan lagu ‘Lelaki Pejalan’. Semuanya berarti untuk hidup saya.

Ibu, Ayah, si Roy, dan Gola Gong, you all are LEGEND! Thanks a lot!

Salam,

Jalu Lalana

* * *

One comment

  1. spirit si Roy ada dalam tubuh setiap remaja bandel yang kreatif!
    dahsyattt!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: