Kisah si Petualang Muda

[Gonjlengan 02]
Indri Juwono, 33, Depok

“Laki-laki artinya mempunyai keberanian.
Mempunyai martabat. Itu artinya percaya pada kemanusiaan.
Itu artinya mencintai tanpa cinta itu menjadi jangkar.
Itu artinya berjuang untuk menang.”
Alexander Panagoulis
Joe, BSR 1, hal pertama

Alasan saya membaca buku ini dulu sebenarnya klise : saya jatuh cinta.
Cinta monyet lah katanya, pada seseorang yang merekomendasikan. Seseorang yang aktif di pramuka, dan hobi kemping dan mendaki gunung. Ketika saya masih berseragam putih biru.

Masa SMP saya dihabiskan di Sidoarjo, kota kecil di selatan Surabaya, yang sekarang terkenal masker lumpurnya. Langganan Gadis, dan hobi membaca Lupus dan Olga. Sebelum tinggal di Sidoarjo, saya sempat tinggal setahun di Blitar, tempat saya memulai SMP dan berkenalan dengan si doi.

Dan ketika kami berpisah karena saya pindah kota, komunikasi dilanjutkan dengan surat menyurat. Nah di salah satu suratnya ini, sesudah saya bercerita soal Lupus dan Olga, juga NKOTB kesayangan saya, dia menyebutkan buku Balada si Roy.
Sebuah novel yang sesuai dengan anak laki-laki sepertinya, yang hobi dengerin Metallica dan Guns N Roses. Juga suka kemping dan naik gunung. Tentu dia nggak cerita soal hobi Roy godain cewek dan naik motor kebut-kebutan. Dan saya kaitkan kesukaannya itu sambil membayangkan dirinya beransel hiking ke gunung.

Tapi saya belum berniat untuk membeli buku itu. Seorang ABG centil seperti saya masih memikirkan koleksi pernak-pernik NKOTB atau model polo Shirt Osella terbaru buat bahan ngobrol dengan peer groupnya. Yang menganggap Olga sebagai standar kekerenan seorang cewek remaja.

Kemudian sewaktu SMA kelas 2 saya liburan di Bandung. Menginap di rumah salah satu teman SD saya di Margahayu. Di sini saya berkenalan dengan kakaknya teman saya, yang kuliah di fakultas Kehutanan, hobi naik gunung dengan ransel Jayagirinya di kamarnya, dan koleksi buku-buku Balada si Roy 1-5. Dan dia amat ganteng dan keren banget!!

Saya numpang baca Balada si Roy selama menginap (apabila tidak pergi keluar) dan membayangkan si Roy ini mirip sekali dengan si kakak. Saat itulah saya memutuskan kalau punya pacar, musti yang suka jalan, karena menurut buku ini, tipe cowok seperti ini setia dan penyayang. Apalagi dengan kalimat-kalimat menggugah di dalamnya, yang pasti membuat cewek jatuh cinta. Bukan kata-kata romantis atau sayang, tapi kata-kata yang membangkitkan semangat. Cowok banget, istilahnya.

Maka ketika pulang ke Sidoarjo, saya membeli buku-buku ini langsung sampai jilid 5. Yang seri selanjutnya terbit belakangan namun saya selalu tunggu-tunggu terbitnya. Menunggu jilid 10 juga lama sekali.

Oh iya, bagaimana kabar si doi yang SMP tadi? Tentulah dia sudah SMA, dan kebetulan saya banyak melihat cowok2 keren di sekitar, jadilah dia terlupakan. Apalagi sejak saya pindah ke Jakarta untuk kuliah.. (padahal dia pindah ke Surabaya lho) saya benar-benar putus hubungan surat menyurat dengannya, karena kesibukan saya yang menggila.

Bertahun-tahun tak ketemu, (kadang-kadang telepon, sih) tahu-tahu saya menemukannya di friendster. Cinta lama bersemi kembali, tentu enggak lah, hanya bunga-bunga masa muda belaka.

(end of nostalgia)

***

“Lelaki dimiliki wanita, tapi dia juga dimiliki semua. Dia harus pergi, tapi juga harus pulang, karena ada yang dikasihi dan mengasihi. Ya, lelaki memang harus pergi, tapi juga harus pulang.”

Heri H Harris
Epilog, BSR buku terakhir.

Dan saya berani bilang, bahwa buku ini mengubah jalan hidup saya.
Mengubah saya jadi seorang remaja pendiam yang rajin belajar, menjadi dewasa oleh perjalanan. Berani mengambil keputusan untuk jauh, berani menerima tantangan yang tak kukira akan bisa kutaklukan. Berani untuk naik gunung, menjelajah, belajar ke alam, berpendapat dan bersuara. Berkelahi karena merasa benar. Walaupun saya bukan seorang lelaki.

Dan yang jelas, saya berusaha untuk menaklukan diri saya sendiri. Karena dalam dirilah berjuta ambisi dan impian terdapat, dan keputusan diri lah yang menentukan, akan terus dikejar, atau dilepaskan karena ada kepentingan yang lain. Bagaimana menerima keputusan-keputusan yang pernah saya ambil tanpa merasa menyesal.

Semua perjalanan adalah pembuktian diri. Ujian bagi kita sendiri apakah kita akan sanggup melaluinya atau terdampar di tengah jalan. Seperti yang dilalui Roy. Suatu saat kita akan sampai pada puncaknya namun kita juga harus pulang. Kembali dan memulai tantangan lainnya lagi.

(pernah dimuat di notes-ku di FB, 10 April 2010)

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: