Awal Mula Balada Si Roy

[Blue Ransel]
Di Balik Layar #1
oleh Gol A Gong

Sekitar Oktober tahun 1987, saya baru pulang dari travelling Indonesia. Dari Tenggarong, ketika hendak menyusuri sungai Kahayan, Samarinda, saya mendapat kabar Emak sakit. Saya harus pulang. Saya sebetulnya sedang berniat menyusuri sungai Kahayan, jadi suku Dayak, hal yang pernah dilakukan oleh Daniel Chaniago. wartawan majalah Kartini, era 80-an. Juga saya ingin sekali mengalami secara emosi, apa-apa yang pernah ditulis Korrie Layun Rampan di cerpen-cerpennya yang berlatarkan bumi Kalimantan.

Saya pulang ke Serang naik perahu kayu dari Balikpapan. Selama lima hari sampai di Surabaya. Lalu naik kereta ke Bandung. Nyambung naik bus malam ke Merak. Saya mendapati Emak yang terbaring sakit langsung bergairah lagi begitu melihat saya pulang. Sorot mata Emak berbinar lagi. Jantungnya memang sering kambuh jika terlalu memikirkan hal-hal remeh tentang saya. Bapak biasanya menghibur Emak, “Biarkan saja. Dia ‘kan lelaki!”

Jika mengingat moment ini, saya selalu berjanji, bahwa Emak memang jangan jauh-jauh dari saya. Saat sendirian di kamar kos Kebon Jeruk Jakarta, di hari-hari kerja Senin hingga Jum’at, jika melihat iklan rokok Gudang Garam Merah, tentang seorang pemuda yang menyandang ransel, hendak pergi berpetualang, dia ditunggu 3 temannya di dalam jeep, tapi justru menunggu ibunya pulang dari pasar. Si Ibu datang naik becak dengan belanjaan. Si Pemuda membantu menutunkan belanjaan dan mencium tangan ibunya. Begitu dekat, dan saya tersenyum sekaligus penuh haru menonton iklan itu. Sangat menyentuh dan mengena di hati saya. Jadi ingat masa muda dulu, saat hendak pergi berpetualang. Persis sekali dengan yang saya alami. Jangan-jangan creative director iklan itu penggemar “Balada Si Roy”.

Kembali ke tahun 1987. Saya dihadapkan pada pilihan hidup waktu itu. Pengembaraan batin dan fisik tertunda dulu. Kini tinggal memindahkannya pada tulisan. Saya periksa buku-buku harian yang aku kirim lewat pos di setiap kota yang aku singgahi. Ranselku juga penuh dengan buku. Saya tetap menolak anjuran Bapak untuk meneruskan kuliah. Saya minta waktu pada Bapak, “Saya akan menulis. Tolong pinjami uang untuk beli mesin tik Portable!” Bapak membelikanku mesin tik merek Brother, sampai sekarang masih ada, tersimpan di Rumah Dunia.

Aku mengurung diri di kamar. Aku baca buku-buku harianku. Bahkan buku-buku harian yang aku tulis saat di SMA (sepanjagn 1979-1982). Bertahun-tahun aku melakukan pengendapan. Bahkan aku beberapa kali pergi menyepi ke Baduy. Otak kananku mengembara ke Old Shaterhand dan Winnetou (Karl May), Jim Bowie (Paul L. Wellman), Papilon (Henrie Chariere), Musashi, dan Tom Sawyer (Mark Twain).. Saya membaca novel dan menonton film; “Outsider” (SE Hinton), Ali Topan Anak Jalanan (Teguh Esha), “Gita Cinta Dari SMA (Eddy D. Iskandar), dan Lupus (Hilman). Saya juga membaca cerpen-cerpen petualangan Emji Alif di majalah Gadis (tahun 80-an). Saya juga menonton film “Staying Alive” dan “Saturday Night Fever” yang melambungkan John Travolta. Saya membayangkan tokoh ciptaan saya berada di sana.

Mulailah muncul satu figur remaja bandel yang saya bayangkan berwajah tampan seperti Matt Dillon, tapi seliar MarkGredory, si orang Indian. Berjalan enerjik seperti John Travolta, tapi menyukai lingkungan seperti Old Shaterhand. Tiba-tiba saya teringat novel “Rob Roy” (Sir Walter Scott). Saya langsung terinspirasi; Roy Boy! Begitulah nama tokoh remaja bandel itu.

Setiap malam saya mencorat-coret bagan dan membuat storyline atau alur cerita. Saya juga membaca buku apa saja; geografi, filsafat, sejarah, dan tentu sajak-sajak kahlil Gibran. Saya mulai menyusun plot perepisode. Saya mulai mencari-cari dan menemukan format: cerita remaja petualangan.

Saya saat itu tidak membayangkan akan membuat cerita populer atau sastra (dikotomi yang paling saya benci!). Yang saya lakukan saat itu adalah menulis cerita fiksi dengan target pembaca remaja dan temanya petualangan. Tentu di dalamnya ada nilai-nilai kemanusiaan serta cinta lingkungan dan bumbu-bumbu romance. Aroma kelelakian pun saya jadikan ideologi terselubung. Sebagai mahasiswa sastra (pernah di Unpad Bandung), saya tetap akan memperhatikan tata bahasa. Kegemaran saya pada puisi-puisi pun saya sisipkan di calon serial ini. Di setiap awal episodenya, akan selalu ada puisi atau kata-kata mutiara. Setting cerita tetap dengan obsesi saya; mengenalkan Banten kepada masyarakat Indonesia. Saya ingin stigma brengsek, bahwa Banten adalah kota magic dengan debus, teluh, pelet, dan jawaranya terhapus!

Empat episode saya tuntaskan dalam waktu 1 bulan. Saya suruh keluarga; Emak, Bapak, kakak dan adik membacanya. Judul awal “Petualangan Si Roy”. Bahkan teman-teman saya juga membacanya. Tanggapan mereka semua bagus! Tiba-tiba, saya mendengar lagu John Lennon dan Yokko Ono: In the name of the night….. Judulnya “Ballad of John and Yoko” Entah mengapa, tiba-tiba saja saya menemukan judul yang pas “Balada Si Roy”.

Pada Desember 1987, saya berangkat ke Jakarta. Targetku menaklukkan majalah HAI. Saya yakin, bisa mengimbangi serial LUPUS yang ditulis Hilman, yang saat itu sedang jaya-jayanya.

* * *

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: